Wednesday, December 20, 2006

"Blink"

Pada saat istirahat kerja beberapa hari yang lalu, dari kantor saya meluncur ke Gramedia Basuki Rahmat, niatnya sih mencari buku tentang bisnis yang ternyata ketemu dengan satu buku kecil dengan sampul biru yang saya fikir sangat sederhana. Disamping tidak dilengkapi dengan gambar sebagaimana buku best seller lainnya juga hanya ada satu warna tulisan. Buku ini benar-benar sederhana sesuai dengan judulnya yang hanya satu kata “Blink”. Saya sangat terkesan dengan buku karya dari Malcolm Gladwell ini, karena saya sadar betapa banyak permasalahan bangsa ini yang terbengkalai karena adanya keterlambatan dalam mengambil keputusan. Bukan begitu? Nah saya ingin berbagi cerita tentang sebagian dari isi buku ini.

"Blink" adalah buku mengenai dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita mengamati sesuatu, dua detik yang akan memberikan pemahaman dalam sekejap mata, yang terbentuk berkat pilihan-pilihan yang muncul dari dalam computer internal kita, alias kemampuan bawah sadar kita. Kemampuan inilah yang oleh Malcolm Gladwell disebut “kemampuan berfikir tanpa berfikir” dimana keputusan sekejap bisa didapat dari informasi yang sedikit namun akurat melalui snap judgment (kesimpulan sekejap) dan thin slicing (sayatan tipis).

"Blink" menyingkapkan bahwa orang-orang yang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses paling banyak informasi atau yang sengaja menghabiskan waktu paling lama, namun orang-orang yang telah melatih diri mereka untuk menyempurnakan seni membuat cuplikan tipis-thin slicing-menyaring sesedikit mungkin factor-faktor terpenting dari sejumlah kemungkinan yang menggunung.

Kita bisa melihat bagaimana buku ini memberikan contoh yang sangat menakjubkan terkait dengan kehebatan dari pengambilan keputusan yang cepat dan akurat, yaitu "blink."

Rahasia Kouros
Diantaranya adalah cerita seorang pakar benda seni yang mengenali barang antik (patung) palsu dalam sekali lihat. Adalah Federico Zeri, seorang pakar sejarah seni Italia yang juga anggota badan pengurus Museum Getty. Ketika Zeri mendatangi studio restorasi museum guna mengamati sang “kouros” dalam bulan Desember 1983, ia secara tak sengaja memerhatikan pahatan di bagian kuku. Meskipun belum bisa menjelaskan secara langsung, ia merasa bahwa disitu ada yang salah.

Evelyn Harrison bahkan cukup melihat sekali ke patung itu dan wajahnya langsung berubah. “Siapa pun yang pernah melihat sebuah patung yang dikeluarkan dalam tanah, pasti bisa mengatakan bahwa benda ini belum pernah terkubur dalam tanah.”
Ketika Federico Zeri, Evelyn Harrison, Thomas Hoving Georgios Dontas dan banyak orang lain di Athena melihat sang kouros lalu merasakan sebuah “penolakan intuitif,” mereka sama sekali tidak salah. Dalam dua detik pertama melihat dalam satu layangan pandang mereka mampu memahami lebih banyak tentang hakikat patung itu dibanding tim Museum Getty yang berusaha memahaminya sampai empat belas bulan.

Pintu Yang Terkunci
Rahasia dalam membuat keputusan dalam sekejap ("blink") ini bisa diibaratkan sebagai pintu yang terkunci. Dimana ini tidak dapat dijelaskan proses terjadinya secara detail kecuali hanya dapat diketahui sesaat ketika mengambil keputusan. Hal ini bisa kita lihat dari cerita seorang pelatih tennis terkenal kelas dunia, Vic Braden. Dia mulai merasakan sesuatu yang aneh setiap kali menyaksikan sebuah pertandingan tennis. Dalam tennis, pemain diberi kesempatan dua kali untuk melakukan servis yang sukses, dan apabila mereka gagal pada kesempatan yang kedua, mereka disebut memperoleh double-fault. Yang tiba-tiba disadari oleh Braden adalah ia selalu tahu kapan seorang pemain akan melakukan double-fault. Sewaktu seorang pemain melambungkan bolanya ke udara sambil menarik raketnya ke belakang, begitu raket hampir menyentuh bola, Braden tanpa sadar berseru, “Aah, double-fault,” dan memang betul, bola yang dipukul, kalau tidak melebar pasti terlalu jauh atau membentur net.

Konon pemodal superkaya George Soros ketika mengambil keputusan-keputusannya untuk menjual atau membeli saham adalah karena punggungnya tiba-tiba nyeri sekali. Jelas inilah antara lain sebabnya George Soros begitu hebat dalam pekerjaannya, ia orang yang sadar tentang nilai hasil-hasil pemikiran bawah sadarnya. Akan tetapi, jika kita menanamkan uang kita bersama Soros, kita merasa waswas sebab penjelasan yang dapat diberikannya seputar suatu keputusan adalah bahwa itu karena punggungnya nyeri sekali.

Seperti yang saya katakan di awal, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat/akurat. Kita bisa menengok kembali kejadian yang dialami bangsa ini dari mulai peristiwa bencana tsunami Aceh sampai dengan permasalahan sosial yang ada. Tanya Kenapa? Teriring do'a yang kita panjatkan selalu semoga bangsa ini dianugerahi pemimpin yang adil dan mampu mengambil keputusan yang berorientasi pada kesejahteraan/kemakmuran rakyatnya. Amiin.

Post a Comment