Thursday, December 21, 2006

Jangan INGIN Kaya Tapi HARUS Kaya

Ingat bukunya aa gym yang berjudul “jangan ingin kaya tapi harus kaya”, nah pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan sebagian isi buku tersebut dan hasil sharing dengan mas ismail nachu (wah saya panggil mas gak papa khan ya…), seorang pengusaha property yang cukup sukses dari surabaya.

Menurut mas ismail, kaya atau tidak kayanya seseorang itu terletak pada mindset/pola pikirnya, yaitu sejauh mana dia memahami dirinya dan juga keinginan yang hendak dicapainya untuk masa mendatang. Hal inilah yang juga dialaminya sehingga dia mengalami lompatan mindset yang sangat drastis yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi pengusaha yang cukup sukses.

Pada saat itu dia ditawari kakaknya untuk menjadi makelar penjualan tanah seluas dua hektar yang terletak di pasuruan. Selama hampir dua tahun keliling mencari pembeli ternyata tidak laku juga. Pada saat itu dia memposisikan dirinya sangat jauh dibawah “tanah seluas 2 hektare dengan harga jual 1.5 m” sehingga yang dilakukannya hanyalah menjadi makelar tanah tersebut. Artinya mindsetnya tentang kekayaan belum berubah, karena dia pada saat itu menjadi karyawan dan itu merupakan kebangga keluarganya.

Perubahan yang dialaminya berubah cukup drastis ketika bertemu dengan pak purdie (ownern primagama group), dimana beliau mengatakan “tanah itu ente beli sendiri saja,” bak seperti ditampar oleh kekuatan yang maha dahsyat akhirnya dituruti saran dari pak purdie tadi. Dengan hanya memiliki dana simpanan sebesar 25 juta dia akhirnya mampu membeli tanah seluas dua hektar dengan harga 1.25 milyard dengan menggunakan dana orang lain tentunya setelah semua bank menolak untuk memberikan kredit. Artinya disini dia meletakkan (dengan menghormati dirinya sendiri) diatas dari “tanah seluas 2 hektare dengan harga 1.25 milyard”. Dan ternyata titik tolak inilah yang mengantarkan mas nachu akhirnya menjadi pengusaha property yang cukup sukses yang dirintrisnya tiga tahun lalu dan sekarang sedang merambah ke dunia elektronik. Sampai akhirnya episode kehidupannya-pun berubah…

Selain perubahan mindset, kaya itu juga sebuah misteri. Yang namanya misteri berarti setiap orang memiliki potensi untuk kaya, hanya saja setiap orang berbeda dalam menyikapinya sehingga outputnya pun berbeda. Kenapa misteri? ternyata Allah sebenarnya menginginkan kita kaya, dimana setiap memerintahkan sholat misalnya maka Allah senantiasa mengiringinya dengan tunaikan zakat, ketika Allah memerintahkan jihad maka Allah menyertakan amwal (jihad harta) disamping anfus (jihad dengan jiwa & raga), atau dalam istilah mas ismail, yang alumni IAIN menyebutnya dengan “theology kekayaan”. Nah mengapa output yang dihasilkan itu berbeda padahal potensinya itu ada, diantara penyebabnya adalah : tidak tahu cara untuk menjadi kaya, tidak punya visi kaya dan tidak gigih dalam usahanya untuk meraih kekayaan.

Banyak cara sebenarnya untuk meraih kekayaan tadi, tapi khan kita harus memperhatikan bagaimana cara untuk menjadi kaya yang bermartabat dan sehat. Seperti yang disampaikan mas ismail, kita bisa saja kaya dengan menjadi koruptor tapi ini khan perbuatan laknat yang bahkan kita harus memeberikan edukasi kepada anak cucu kita untuk menjauhinya. Kita pun bisa kaya dengan jalan menjadi karyawan tapi jalannya lambat. Nah kalau pengin sehat ya jadilah pengusaha, sergahnya. Ya bisa jadi sehat kehidupan pribadinya, keluarganya, finnsialnya dan juga sehat sosialnya. Dalam sebuah buku yang berjudul “Mistikus Corporate” dijelaskan mengenai kecenderungan para pengusaha yang berada di puncak kesuksesan senantiasa memiliki kehidupan social yang luar biasa. Misalkan saja bill gates, dia sudah tidak lagi konsen di Microsoft tetapi dia malah enjoy di kegaiatan-kegiatan social yang dibidaninya. Juga sperti pengusaha property yang memiliki perumahan Rewwin & GKB Gresik, dia bisa ramah kepada setiap orang yang ditemuinya bahkan tidak segan-segan memberikan ilmunya dan yang tak kalah pentingnya jangan dihitung berapa shodaqohnya.

Yang kedua, seseorang juga harus mempunyai visi kaya. Dan inilah yang mebedakan mengapa output masing-masing orang berbeda. Kalau saya melihat banyak sekali perilaku sebagian masyarakat kita yang mencerminkan betapa jauhnya visi kaya tadi. Dan ini bisa dilihat dalam kehidupan disekitar kita, seperti saudara kita yang berada di kampong (kumuh) misalnya, mereka bukannya tidak punya penghasilan tetapi gaya hidupnya yang menyebabakan dia akhirnya tidak mencapai kesejahteraan. Kalau kita ke warung disekitar pemukiman ini biasanya menjual makanan seperti ketela goreng, pisang dsb tetapi rokok yang dijual adalah Jisamsu. Bisa kita hitung berapa uang yang dibuang untuk konsumsi rokok saja. Tanya kenapa?
Dan yang perlu kita garis bawahi, bahwa kaya itu adalah karunia yang diberikan Allah SWT melalui serangkaian proses kerja keras, cerdas dan ikhlash.

Yang ketiga, ketika kita sudah memilih jalan untuk menjadi pengusaha, maka hal terpenting yang harus kita lakukan adalah senantiasa gigih untuk mencapainya. Ada kiat yang bisa kita lakukan untuk mendayagunakan segenap potensi kita, diantaranya :

ber-Ghiroh (cerdas emosional), Ghiroh yang artinya semangat atau senantiasa optimis, jadi seorang pengusaha hendaknya memilki semangat untuk tetap merealisasikan visinya apapun kondisinya. Dan awal menjadi pengusaha adalah masa-masa sulit yang harus dialui dengan selamat.

ber-Ilmu (cerdas intelektual), yah ini merupakan sebuah kepastian dimana tidak bisa kita menggapai sesuatu tanpa ilmu begitupun dengan menjadi pengusaha. Tetapi bukan ilmu akademik yang kita peroleh di bangku kuliah saja tapi yang terpenting adalah ilmu tentang dunia usaha tadi. Semakin dijalani akan semakin cerdas kita dalam mengelola bisnis yang kita geluti begitu pula dalam melihat dan menangkap peluang yang ada.

ber-Gagasan (cerdas intuisional), Seorang pengusaha harus kreatif dan penuh dengan ide. Kalau dulu bakso itu bulat maka kemudian muncul bakso kotak atau bahkan bakso tennis, misalnya.

ber-Ibadah (cerdas spiritual), Karena menjadi pengusaha itu adalah karunia Allah maka hubungan kita dengan Allah SWT juga harus baik. Apapun yang menimpa diri kita, kita laporkan kepada Allah SWT. Allah menyediakan tempat kepada hambanya untuk berkomunikasi dengan-Nya melalui sholat 5 waktu, qiyamullail dan ibadah lainnya di setiap harinya, termasuk yang kita laporkan adalah bisnis yang kita jalani.

ber-Hati mulia (cerdas social). Ketika saya bertemu dengan Almarhum Pak Sutarjo, seorang pengusaha udang ternama dari sampang-madura yang juga mengelola sebuah pesantren, beliau mengatakan bahwa kita ini ibaratnya sebagai terminal (pos pemberhentian sementara) saja, kalau yang kita keluarkan banyak maka insyaallah begitupun yang akan kita terima. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh ustadz yusuf mansyur, terkait dengan rumus sedekah yang 10 % itu. Bahwa kalau kita menginginkan pendapatan kita 10 juta misalnya, yah yang kita keluarkan untuk shodaqoh ya 1 juta dan itu harus dikeluarkan pertama kali sebelum pengeluaran yang lain, dan bukan sisa.


Catatan Pinggir :

Mengenang pertemuan dengan bapak sutarjo, beliau adalah orang yang sangat bersahaja, disamping sebagai pengusaha udang yang cukup sukses konon juga menembus pasar ekspor, juga sebagai pendiri & pengelola Pesantren Al Ittihad Al Islamy di depan pantai camplong yang indah-Sampang-Madura. Saya mengenalnya melalui putra beliau yang kebetulan juga adalah para ustadz dimana saat kuliah dulu saya pernah nyantri kilat di pesantren tersebut. Diantara putra beliau adalah ustadz mughni musa (menantu yang diamanahi menjadi Mudhir/Kepala Pesantren), ustadz junaidi (ustadz muda, yang sekarang masih di kairo-mesir untuk studi) dan ustadz khoirul anam (ustadz yang berjiwa muda, penghobi sepak bola dan sekarang mendapat amanah sebagai anggota DPRD Kab Sampang, meskipun amanah ini sangat tidak diinginkannya). Saya teringat selama nyantri selama sepekan setiap tahunnya menu makan kami setiap hari tidak pernah lepas dari udang & ikan laut, sekali lagi Jazakumullah…

Pada saat menulis ini saya masih sibuk untuk mencari investor untuk mendanai proyek pembangunan tower di Aceh yang sudah mulai dikerjakan kemaren. Yah dananya kurang sepertiga dari harga kontrak. Terbayang oleh saya untuk dapat membahagiakan para mitra kami yang sekarang berada di Aceh untuk memulai pekerjaan besar ini. Setelah mereka menyelesaikan empat tower secara sempurna dan bisa diterima oleh owner dengan baik dan sekarang mereka harus tinggal lagi di Aceh yang masih gegap gempita pilkada. Teriring do’a semoga terpancar kebahagiaan ketika keluarganya menyambut kedatangan sang pangeran dengan membawa hasil yang barokah, insyaallah.
Post a Comment