Friday, August 24, 2007

Ruang Kenangan

Saat kita terpuruk, hal yang terindah yang mampu membangkitkan semangat kita adalah masa dimana kita pernah mengalami kejayaan. Kejayaan itu bisa berupa apa saja, seperti saat terindah dimana kita mulai bisa membaca Al Qur’an, saat dimana kita bisa setiap saat bangun di sepertiga malam dengan begitu mudahnya dan dengan leluasa memadu kasih dengan Rob tercinta, Allah SWT.

Juga bisa berupa kenangan tatkala kita meraih prestasi baik akademik maupun non akademik yang meruapakan aktifitas yang sangat kita sukai. Dan juga saat kita mampu memulai bisnis dengan modal yang nyaris tidak ada tetapi mampu menjadi bisnis besar bahkan beromset miliaran.
Bisa juga saat kita penuh dengan kedamaian bersama keluarga besar di tanah kelahiran kita, seperti yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW ketika lama hijrah ke Madinah. Beliau rindu akan kenangan dengan tanah kelahirannya, Makkah dan itu diungkapkan dengan sangat expresif dan diabadikan dalam hadist.
Yah, “Ruang Kenangan”, begitu saya menyebut dan Bung Karno mengingatkan kepada kita untuk selalu ingat pada kenangan masa lalu dan menyebutnya dengan “Jas Merah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) atau dalam bahasa manajemen seringkali para trainer menyebutnya dengan istilah “Moment Of Greatnes” (masa-masa dimana kita mendapatkan & menemukan momentum prestasi puncak dalam hidup kita).
Semakin kita memiliki ruang kenangan yang penuh dengan energi positif maka semakin dekat pula kita dengan sukses. Karena sesungguhnya sukses itu adalah akumulasi dari prestasi yang pernah kita raih sebelumnya. Seorang atlit renang misalnya dia tidak akan mampu meraih rekor dunia tanpa melalui rekor kecil sebelumnya. Bahkan saat Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan ribuan kali itu dia tidak menganggap sebagai kegagalan tetapi dia menganggap sebagai persitiwa yang karenanya dia menemukan hal-hal baru setiap mengalami kegagalan tadi.
Kenapa kita perlu menyediakan ruang kenangan dalam diri kita, setidaknya ada beberapa manfaat yang bisa kita ambil bersama, diantaranya :
Membangkitkan MOTIVASI
Seorang pebisnis besar, hal yang paling diingat adalah saat dimana dia mengalami kegagalan/keterpurukan dan kemudian dia bisa bangkit lagi. Seorang pembaca/penghafal Al Qur’an yang mahir, hal yang paling diingat adalah saat dimana dia mengalami proses belajar kerasnya untuk bisa membaca/menghafal.
Seperti Pak Yeyen (SEC) yang saat ini mulai mengalami prestasi yang baik dalam bisnisnya. Dia baru saja membeli property seharga miliaran dengan modal puluhan juta atau setara hanya untuk bayar sewa property satu tahun. Dia mengatakan seringkali ingat dengan masa lalunya, yang kalau difikir dengan akal sehat semuanya ”tidak masuk akal”. Dimana seringkali mengalami keterpurukan dalam bisnis yang hampir membawanya ke jurang perceraian dengan istrinya dan dia mampu bangkit dengan segala potensi dan keyakinan yang dimilikinya.
Mengingatkan akan pentingnya EVALUASI
Seringkali kita lupa dengan hal ini, padahal perannya sangat dahsyat untuk mengarahkan dan mempercepat ke arah tujuan yang benar. Dengan melakukan evaluasi kita akan tahu posisi kita saat ini dan apa yang bisa kita lakukan untuk masa mendatang.
Membangkitkan energi POSITIF
Dengan mengingat momen-momen bahagia atau saat dimana kita mendapatkan prestasi, ”moment of greatness”, akan membangkitkan seluruh persendian kita untuk melakukan hal yang sama dengan prestasi yang lebih besar tentunya. Jadi sikap positif adalah penting. Namun perubahan untuk menjadi lebih baik/positif dalam kehidupan/bisnis kita adalah lebih penting. Tidak hanya sikap saja, tapi sudah menjadi tindakan untuk selalu lebih baik.
Membangkitkan gairah CINTA
Dengan kembali mengingat masa lalu apalagi kenangan indah, maka akan membangkitkan gairah cinta. Hubungan suami istri akan semakin intim dengan mengingat masa-masa awal saat memulai maghlighai pernikahan yang penuh keindahan. Aapalagi menurut Pak Anang supardi (Managing Director SAMdesign), kreatifitas akan tumbuh jika ada cinta didalam diri kita. Saat kita memulai bisnis garmen misalnya, maka kita harus melakukannya berdasarkan cinta dan bukan sesuatu yang dipaksakan.
Catatan Penting :
Selamat atas pelantikan Bapak Dr. Rer. Nat. Triwikantoro, M.Sc. sebagai Dekan FMIPA ITS Surabaya dan Bapak Dr. Mardi Santoso sebagai Pembantu Dekan I FMIPA ITS Surabaya hari ini Jum’at 24 Agustus 2007. Pengin kenal beliau, klik disini.
(beberapa sms dari para mitra ANNIDA-Islamic Kids Wear beberapa hari yang lalu)
”alhamdulillah Bu, baju ANNIDA sudah nyampai kemarin dan sudah langsung laku 10 stel”
”baju ANNIDA nya sudah sampai, alhamdulillah semuanya dalam keadaan baik, saya order lagi Bu ya 50 stel, tolong kirim via ALS saja. Trimakasih”

Tuesday, August 21, 2007

Sabar dan Harap

Kemarin, saya baru saja bertemu dengan Ustadz Ahmad Arqom. Beliau adalah guru dan sekaligus sahabat saya yang sangat bersahaja, disamping beliau juga merupakan trainer di LMT Trustcho Surabaya. Ustadz Ahmad begitu biasanya kami memanggilnya juga merupakan salah seorang yang istimewa di hati saya karena beliau adalah ustadz yang berkenan menyampaikan khutbah nikah di pernikahan saya dulu di Masjid Muhammad Cheng Hoo.
Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan materi kajiannya dengan tema ”Sabar dan Harap”, yang saya ceritakan berikut ini.
Tiba-tiba kita mungkin mengalami problem semangat untuk maju, karena tiba-tiba kita kehilangan motivasi untuk bekerja dan berusaha. Ini biasa terjadi dalam perjalanan hidup, tidak hanya pada orang-orang biasa seperti kita, manusia-manusia luar biasa seperti para Nabi dan Rasul juga mengalami hal serupa.
Pada salah satu tahap kehidupan kita, memang beban persoalan kehidupan yang harus kita pikul tiba-tiba melebihi daya pikul kita. Ini terjadi karena kapasitas kepribadian kita secara spiritual-emosional dan intelektual, tidak kita upgrade sehingga memungkinkan untuk itu.
Disamping itu, watak dan kebiasaan manusia yang cenderung tidak menyadari kesalahan mendasarnya dalam bersikap, Ia lebih menyalahkan factor-faktor diluar dirinya daripada mengarahkan perhatiannya pada sudah menurunnya kualitas kepribadiannya.
Saya berusaha untuk selalu membiasakan, melihat dan menakar kapasitas kepribadian saya, jika tiba-tiba menghadapi beban persoalan hidup yang begitu banyak dan berat. Dan, kapasitas kepribadian itu paling tidak meliputi kapasitas keyakinan, kapasitas keluletan-kesabaran dan kapasitas harapan.
Kapasitas Keyakinan
Dalam kehidupan kita, keyakinan pada kemutlakan kekuasaan-Nya, memiliki fungsi untuk :
  • Memberi kejelasan pandangan, yang tidak kepada mata lahir kita tetapi kepada mata batin kita, sehingga kita memilih untuk tetap mencoba dan berusaha.
  • Memberi kekuatan kepada kita untuk terus bekerja, berusaha dan berjuang walaupun segalanya dianggap tidak mungkin.
Kapasitas Kesabaran-Keuletan
Harus disadari bahwa keyakinan saja tidaklah cukup, sebab masalah-masalah dalam hidup kita itu mendera dalam rentang waktu yang tidak singkat. Instrumen kepribadian lain yang dibutuhkan kemudian adalah : kesabaran-keuletan-kegigihan-kepercayaan diri dan optimisme.
Kalau keyakinan itu memberi manfaat kepada kita untuk memilih tetap dan terus berusaha, maka kesabaran-keuletan-kegigihan-kepercayaan diri dan optimisme memberi kita daya tahan untuk terus melakukan itu.
Kapasitas Harapan
Keyakinan membuat kita mengetahui dan menyadari kemutlakan kekuasaan-Nya atas apapun di alam semesta ini termasuk didalamnya adalah sebab-sebab. Ia juga memberi rasa percaya diri kepada kita untuk menaati perintah-Nya karena kepastian janji-Nya.
Adapun kesabaran-keuletan-kegigihan-kepercayaan diri dan optimisme memberi kita usia berjuang yang lebih lama untuk terus mencoba.
Nah, adapun harapan akan memberi kita sebanyak seribu alasan untuk tetap terus berjuang.

Catatan Penting :
Ucapan terima kasih kepada para mitra annida islamic kids wear di seluruh indonesia, semoga kebersamaan kita ini akan memberikan manfaat yang besar dan mendatangkan barokah dan ridho dari Allah SWT. Amiin. Teriring salam kepada Ibu Endah (Lmg), Ibu Dienastaty dan Ibu Pipit (Sby), Ibu Atik Kuswadi (Jayapura), Pak Adi Prayitno-Ar Rahman Distro (Jaktim), Ibu Aditya Maharani (Sangatta), Ibu Fauza (Medan), Ibu Ulfa (Bogor), Bapak Siswaya (Bekasi), Ibu Imelda (Padang) dan seterusnya.......
Selamat & Barokallah atas terselengaranya kegiatan BeSmart oleh Uswah Student Center di Auditorium Indosat, ahad 19 agustus 2007, trimakasih atas kehadiran bapak Dr.Ir. Daniel M. Rosyid (ketua dewan pendidikan prop. jatim), bapak Ahmad Afandi (wakil walikota sby), bapak dari diknas kota sby, mas marendra darwis (penulis & penggiat pelajar berprestasi) dan mas salim a. fillah (penulis muda) juga kepada Indosat selaku sponsor utama dan seluruh pihak yang berperan. Semoga mampu menghadirkan wajah pelajar indonesia yang punya prestasi internasional dan berakhaqul karimah. amiin....

Wednesday, August 15, 2007

Para peCINTA waktu FAJAR

Fajar, merupakan simbol kemunculan semua kebaikan, simbol kemenangan, lambang kehidupan, identitas masa muda, bukti gerak dan dinamisme juga merupakan dalil kebenaran dan keadilan. Fajar terjadi pada waktu sangat hening. Selain itu, fajar merupakan saat-saat kebeningan, moment pembangkit rizki.

Shalat fajar (Shubuh) bukti nyata kuatnya iman dan kesuciannya dari kemunafikan, sebab waktu itu saat serba sulit bagi jiwa manusia. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim :

“Shalat paling berat pelaksanaannya bagi orangorang munafik oalah shalat Isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Dr. Abdul Hamid Dayyab berkata, “Manfaat kesehatan yang diperoleh orang dengan bangun pagi banyak sekali. Di antaranya, gas O3 di udara sangat melimpah saat fajar, lalu berkurang sedikit demi sedikit, hingga habis ketika matahari terbit. Gas O3 punya pengaruh positif pada urat sraf, mengaktifkan kerja otak dan tulang. Ketika seseorang menghirup udara fajar yang dinamakan udara pagi, ia merasakan kenikmatan dan kesegaran tiada taranya di waktu mana pun, baik siang atau malam”
DUA RAKA’AT SHOLAT FAJAR
Dua raka’at shalat Fajar adalah shalat sunnah qabliyah (sebelum) shalat Shubuh. Shalat ini disukai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hingga beliau bersabda,
“Dua raka’at shalat Fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.” (Diriwayatkan Muslim)
Di riwayat Muslim yang lain disebutkan,
“Sungguh, dua raka’at shalat Fajar lebih aku sukai daripada dunia semua.”(Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Jika dunia dan seisinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dua raka’at shalat sunnah fajar (Shubuh) di mata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bagaimana keutamaan shalat Shubuh itu sendiri?
ORANG YANG MENGERJAKAN SHOLAT SHUBUH & SHOLAT ASHAR TIDAK MASUK NERAKA
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan, siapa saja konsisten mengerjakan shalat Shubuh dan shalat Ashar, ia masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut,
“Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh dan shalat Ashar, ia masuk surga.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
“Siapa pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (shalat Shubuh) dan terbenam (shalat Ashar), maka tidak akan masuk neraka.” (Diriwayatkan Muslim)
Imam Al-Manawi berkata,
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi penekanan khusus pada shalat Shubuh dan shalat Ashar, karena punya nilai lebih dibandingkan shalat-shalat lainnya, atau karena disaksikan malaikat yang bertugas malam dan siang hari, atau karena kedua shalat itu sulit dikerjakan manusia, sebab waktu shalat Ashar merupakan waktu sibuk sedang shalat Shubuh adalah waktu sulit. Karenanya, barangsiapa memperhatikan kedua shalat itu, ia pasti memperhatikan shalat-shalat lainnya. Barangsiapa mengerjakan kedua shalat itu dengan konsisten, tentu ia lebih konsisten mengerjakan shalat-shalat lainnya dan ia nyaris tidak lalai. Jik ia seperti itu, dosa-dosanya diampuni dan ia masuk surga”
QUR’ANUL FAJR
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan shalat Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan.”(Al-Isra’: 78)
Yang dimaksud dengan Qur’anul Fajr pada ayat di atas ialah shalat Fajar (Shubuh), yang disaksikan para malaikat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Malaikat yang bertugas malam dan malaikat yang bertugas siang pergi secara bergantian kepada kalian. Mereka bertemu saat shalat Shubuh dan shalat Ashar. Malaikat yang bertugas malam naik, lalu ditanya Allah. Padahal Dia lebih tahu daripada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?’ Para malaikat yang bertugas malam menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka sedang mengerjakan shalat dan datang lagi kepada mereka saat mereka mengerjakan shalat’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Betapa bahagianya orang yang mampu berjihad melawan dirinya, tidak menggubris kenikmatan dan kehangatan “ranjang”, serta melawan semua daya tarik yang menyeretnya ke “ranjang”, demi mendapatkan “cek” bersih dari sifat orang munafik, menjadi orang-orang yang layak menerima berita gembira Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan masuk surga, memperoleh kesaksian para malaikat dan pertanyaan Allah Ta’ala. Karena keagungan fajar, Allah Ta’ala bersumpah dengannya saat berfirman,
“Demi fajar. Dan malam yang sepuluh.” (Al-Fajr: 2)
FAJAR ITU STANDARD UNTUK MENILAI ORANG
Para sahabat Radhiyallahu Anhu menjadikan shalat jama’ah Shubuh sebagai standart untuk menilai orang. Barangsiapa hadir di jama’ah shalat Shubuh, mereka mempercayainya. Dan, barangsiapa tidak menghadirinya, mereka berburuk sangka padanya. Ibnu Umar Radhitallahu Anhuma berkata, “Jika kita tidak melihat seseorang di jama’ah shalat Shubuh dan Isya’, kita berburuk sangka padanya.”
Apakah perkataan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma ini tidak mengguncang hati kaum mukminin dewasa ini, membuat mereka berlomba dengan orang lain untuk menghirup udara pagi, menjadi orang-orang terdepan yang akan ditulis di buku para malaikat yang bertugas malam dan siang hari, serta menjadi pecinta-pecinta fajar?
catatan penting :hanya sebuah ikhtiar untuk mempersiapkan ramadhan 1428 h lebih baik lagi......Allah menyediakan samudra cintanya yang maha luas di bulan ini untuk hamba-Nya yang beriman, dan kalau kita meneguknya semaksimal yang kita mampu, maka cinta-Nya melebihinya.....
barokallah...atas terpilihnya bapak DR. Rar.Net. Triwikantoro, MSc sebagai dekan FMIPA ITS Surabaya. Seorang yang sangat bersahaja, sahabat sekaligus guru saya, yang pernah mengisi hidup saya dalam kebersamaan beberapa waktu lalu. Semoga mampu mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya. amiin.

Friday, August 03, 2007

BerCINTA karena ALLAH

KETAHUILAH bahwa bercinta karena Allah adalah bagian dari konsekuensi dan kesempurnaan cinta kepada-Nya, dan bukan yang merusak cinta tersebut. karena konsekuensi dari mencintai Kekasih adalah mencintai apa yang dicintainya dan menyenangi segala hal yang menopang pencapaian keridhaan dan kedekatan dengan-Nya. Di antaranya adalah mencintai para Nabi, orang shalih, dan berbagai amal shalih. Mencintai hal-hal di atas adalah bagian dari kesempurnaan cinta kepada Allah.
Seorang mukmin tak mungkin tidak mencintai apa yang bisa membantunya mencapai ridha Allah dan membawanya kepada cinta dan kedekatan dengan-Nya.
Jika Anda mencintai seseorang karena Allah sebenarnya Anda mencintai Allah. Tiapkali Anda membayangkannya dalam hati Anda, maka sesungguhnya Anda membayangkan apa yang dicintai Allah, lalu Anda mencintainya. Sebagaimana jika Anda mengingat Nabi saw, para Nabi dan Rasul sebelumnya, dan para sahabatnya yang shalih, lalu Anda menggambarkan mereka di hati anda, maka sebenarnya hal itu membawa hati Anda kepada cinta Allah yang dikaruniakan pada mereka manakala Anda mencintai mereka karena Allah.
Jadi, sesuatu yang dicintai karena Allah akan membawa kepada cinta Allah. Bila seorang pencinta Allah mencintai seseorang karena Allah, maka sesungguhnya Allah adalah yang dicintainya. Ia ingin membawa kekasihnya kepada Allah. Dan keduanya, baik pencinta maupun yang dicintai karena Allah, masing-masing menghela menuju Allah.
Cinta karena Allah ini tidak terwujud kacuali jika telah bersih dari kepentingan. Orang yang mencintai seseorang karena pemberian yang diterimanya, sebenarnya ia hanya mencintai pemberian tersebut. dan bila ada yang mengatakan bahwa ia mencintai orang yang memberinya itu karena Allah maka dustalah ia.
Demikian pula orang yang mencintai seseorang karena dia menolongnya, maka sesungguhnya ia hanya mencintai pertolongan, dan bukan orang yang menolongnya. Semua itu termasuk tindakan mengikuti apa yang diinginkan oleh nafsu. Karena hakikatnya ia tidak mencintai, melainkan karena ingin memperoleh manfaat atau menolak bahaya. Maka ia hanya mencintai perolehan manfaat dan penolakan bahaya.
Ia hanya mencintai hal tersebut karena keberadaannya sebagai sarana untuk sampai kepada apa yang dicintainya. Ini bukan cinta kepada Allah, juga bukan cinta kepada apa yang dicintainya itu, melainkan cinta pada kepentingan, yang bisa lenyap bersamaan dengan lenyapnya kepetingan. Sesungguhnya orang yang menyayangimu karena suatu hal, maka ia akan berpaling darimu jika hal tersebut lenyap.
Kecintaan seperti ini kerap terjadi di antara seseorang dengan sesamanya. Dan cinta ini tidak diberi pahala di akhirat dan tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan bisa jadi hal tersebut membawa kepada kemunafikan sehingga mereka menjadi teman-teman dekat yang saling bermusuhan di akhirat. Namun hal itu tidak terjadi pada orang-orang yang bertakwa.
Allah berfirman:
“Teman-teman akrab hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa” (az-Zukhruf [43]: 67)
Tapi jika cinta itu bersemi karena orang yang dicintai tersebut seorang yang shalih, dan mendorong orang-orang yang saling bercinta itu untuk bangkit menuju Allah, saling berwasiat dengan kebanaran dan kesabaran, saling bekerja sama melakukan kebaikan, dzikir, dakwah dan menuntut ilmu, maka hal itu adalah cinta karena Allah. Nabi Musa berkata—sebagaimana yang direkam al-Qur’an:
“Wahai Rabbku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka paham ucapanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku. Kokohkan dengannya kekuatanku, dan jadikanlah ia sekutu dalam urusanku” (Thaha [20]: 25-35)
Kemudian Nabi Musa menjelaskan tujuan kerja samanya dengan saudaranya tersebut—sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat itu:
“Agar kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami” (Thaha [20]: 33-35)
Bertasbih dan dzikir yang banyak adalah tujuan dari persaudaraan karena Allah.
catatan penting :
mau menjadi mitra/agen busana muslim anak ANNIDA-Islamic Kids Wear, hubungi NEETA di 08155 123 832 atau SISKA di 031-600 500 50 / 031-593 5286 atau juga datang langsung ke show room & kantor pemasaran kami.
mau lihat koleksi ANNIDA-Islamic Kids Wear, klik disini