Wednesday, October 31, 2007

India Melahirkan Orang Ter-KAYA Dunia

Hari ini sebagai aktifitas rutin untuk memenuhi asupan berita, aku membuka detik.com seperti biasanya. Tapi ada yang menarik disini ketika aku membaca judul berita “Mukesh Ambani Geser Bill Gates Jadi Orang Terkaya Di Dunia”. Bagi saya ini adalah berita yang luar biasa mencengangkan yang menunjukkan bagaimana orang dari Asia bisa menjadi orang terkaya di dunia. Memang tidak ada sesuatu yang tidak mungkin termasuk mengalahkan dominasi Negara adi daya saat ini he…he….
Masih lekat dalam ingatanku ketika Bos Jawa Pos, Dahlan Iskan mengulas dengan sangat baik terkait kehidupan keluarga dua bersaudara India, Mukesh Ambani & Anil Ambani beberapa waktu yang lalu yang kemudian juga saya ulas lagi di blog saya ini. Dan memang tidak mengherankan kalau akhirnya Mukesh Ambani menjadi orang terkaya dunia kalau melihat kehidupan dan bagaimana orang tuanya mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi orang sukses.
Berdasarkan informasi dari Surat Kabar berbahasa Inggris terbitan India, "The Times of India", Selasa, 30/10-2007, memberitakan rekor terbaru orang terkaya di dunia dipegang oleh pengusaha asal negeri itu, Mukesh Ambani, dengan kekayaan mencapai 63,2 miliar dolar.

Jumlah kekayaan sebesar itu menempatkan Mukesh lebih kaya dibanding milioner Amerika Bill Gates, investor Warren Buffet, taifun Meksiko Carloss Slim, dan saudagar baja L N Mittal yang juga berasal dari India.

Bila kekayaan Mukesh digabung dengan kekayaan saudara laki-lakinya yang bernama Anil Ambani, diperkirakan mereka layak dinobatkan sebagai keluarga yang paling kaya di seluruh dunia karena total pundi kekayaan melebihi 100 miliar dolar.

Kekayaan Mukesh disebut-sebut datang dari lonjakan harga saham berbagai perusahan miliknya, seperti Reliance Industries, Reliance Petroleum, dan Reliance Infrastructure. Dimana perusahaan-perusahaan itu tercatat sebagai perusahaan dengan saham yang paling tinggi dan paling diminati.
Jadi, hari ini dunia menjadi saksi bahwa India berhasil melahirkan orang terkaya dunia. Bagaimana dengan Indonesia ?

Monday, October 22, 2007

Catatan Idul Fitri II : Emansipasi & Kesetaraan

Dalam suatu kesempatan pasca Hijrah, Rasulullah saw mengumpulkan para Tokoh dan Kaum Muslimin yang ada di Madinah. Rasulullah saw menyampaikan pidato yang sangat fenomenal dan karenanya dibadikan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berikut ini :
”ayyuhan naas ; absus salam, wa ath’imu tho’am, wasilul arham, washollu bilaili wannaasu niyam”
”wahai sekalian manusia ; tebarkanlah salam, dan berikanlah makanan, dan sambung silaturrahim, dan sholatlah di malam hari saat manusia tidur”
Dalam syarahnya, Imam Tirmidzi menyampaikan bahwa Rasulullah mengawali pidatonya dengan ”AYYUHAN NAAS” adalah untuk menunjukkan bahwa manusia itu memiliki kesetaraan dihadapan Allah SWT. Tidak ada perbedaan antara kaya & miskin, pejabat & bawahan, kuat & lemah kecuali TAQWA nya dihadapan Allah SWT. Jadi jauh sebelum dunia berteriak tentang emansipasi & kesetaraan, Rasulullah saw sudah membuktikan kesetaraan pada tingkat yang aplikatif bukan hanya sekedar retorika.
ABSUS SALAM : TEBARKANLAH SALAM
Salam disni mengandung tiga pengertian sekaligus, yaitu : Assalam (Keselamatan), Assilmi (Kedamaian) dan Arrahmah (Kasih Sayang). Sehingga salam sesungguhnya adalah do’a yang disampaikan muslim yang satu kepada muslim yang lain. Yang namanya do’a maka harus disampaikan dengan penuh keikhlasan dan penuh persaudaraan. Tidaklah logis kalau ada orang mengawali marahnya dengan mengucapkan salam misalnya. Karena ”Salam” adalah do’a dan simbul cinta antar sesama muslim.
Dalam sebuah buku ”Pilar-Pilar Ajaran Islam” yang ditulis oleh salah seorang ulama India, disampaikan bahwa : SHOLAT merupakan ibadah yang komplit. Selain isi/rukun sholat secara keseluruhan, sholat diawali TAKBIRATUL IKRAM yang merefleksikan KEKUATAN SPIRITUAL (hablumminallah) dan diakhiri dengan SALAM yang merefleksikan KEKUATAN SOSIAL (hablumminannaas).
WA ATH’IMU THO’AM : BERIKAN MAKANAN
Berikan makanan atau bisa juga diartikan sebagai ”TEBARKAN KEPEDULIAN” kepada sesama manusia merupakan bentuk komunikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat & beragama.
Dalam Islam, yang namanya komunikasi sosial yang berupa ”diplomasi perut” itu bukan hanya sekedar memberikan secara ”materi” tetapi jauh dari itu adalah bagaimana komunikasi itu terjalin secara baik dengan bahasa hati. Hal ini bisa kita lihat bagaimana akhlaq Rasulullah saw, yang diabadaikan dalam shiroh :
Rasulullah memiliki tetangga wanita tua yahudi yang seringkali memaki-maki Rasulullah saw dengan tuduhan/fitnah yang keji. Pada suatu hari wanita tua ini sakit dan tidak bisa beranjak dari peraduannya. Rasulullah saw. adalah orang yang pertamakali menjenguknya dan setiap hari beliau memBERI makanan dan MENYUAPInya. Dan setiap hari ketika Rasulullah saw. Menyuapi, wanita tadi terus-terusan memaki-maki Rasulullah (wanita ini tidak tahu kalau yang menyuapi adalah Muhammad, Rasulullah saw). Ketika Rasulullah saw merasa ajalnya sudah mulai dekat, beliau berwasiat kepada Abu Bakar supaya merawat wanita tua tadi.
Sepeninggal Rasulullah saw. Abu Bakar yang menggantikan untuk memberi makan kepada wanita tadi. Wanita tadi kagetnya bukan main dan mengatakan : ”kamu sepertinya bukan orang yang biasanya datang kepadaku karena aku tidak hanya diberi makanan tapi juga disuapinya”. Betapa terkejutnya Abu Bakar, dan beliau berkata : ”wahai wanita tua, ketahuilah yang selama ini datang kepada kamu adalah Muhammad, Rasulullah saw, orang yang kau benci, dan sekarang sudah wafat”. Akhir cerita wanita yahudi tadi masuk islam dengan melihat sendiri kepribadian Rasulkullah saw yang luar biasa.
Kita sangat trenyuh dengan model pemberian bantuan yang akhir-akhir ini masih dilakukan para PENGUASA/PEJABAT/ORANG KAYA saat memberikan bantuan yang seolah ingin menunjukkan keDIGDAYAannya. Kita bisa lihat berapa bantuan yang didapat dengan pengorbanan yang sangat besar. Media mencatat beberapa orang meninggal dan beberapa lainnya perlu mendapatkan perawatan karena berdesakan untuk menerima belas kasihan dari SANG DIGDAYA tadi. Naudzubillahimindzalik.
WASILUL ARHAM : SAMBUNG SILATURRAHIM
Wasilul Arham, dalam istilah manajemen cukup populer dengan sebutan ”MEMPERLUAS JARINGAN” merupakan upaya untuk menambah saudara dan sekaligus meningkatkan kualitas hubungan persaudaraan. Dari sini kita akan mendapatkan hasanah yang beragam seiring dengan banyaknya saudara yang kita jalin disamping juga terselipnya peluang dan hikmah yang bisa kita ambil bersama.
Menyambung silaturrahim kepada orang yang tidak ada masalah dengan kita sangatlah mudah, tetapi kalau kita mendatangi orang yang memutus tali silaturrahim dengan kita maka ini adalah pekerjaan berat. Dan memang ”Sambung Silaturrahim” ini lebih dititikberatkan kepada orang yang meutus hubungan dengan kita.
Dalam Alqur’an Surat Annisa (4) : 1, disampaikan :
”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan SILATURRAHIM. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”
WASHOLLU BILAILI WANNAASU NIYAM : SHOLATLAH DI MALAM HARI SAAT MANUSIA TIDUR
Poin 1,2 dan 3 diatas dari pidato Rasulullah saw tersebut adalah bentuk KOMUNIKASI SOSIAL sedangkan di poin 4 ini adalah bentuk KOMUNIKASI SPIRITUAL. Artinya bahwa setelah kita melakukan aktifitas dalam kehidupan ini, disamping kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan selanjutnya kita bertawakal kepada Allah SWT. Jangan sampai sejengkalpun kita melangkah tanpa menyertakan Allah SWT didalamnya.
Menurut Imam al-Qusyairi an-Naisabury, bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuannya.
Selama satu bulan penuh kita digembleng untuk melaksanakan QIYAMULLAIL sebagai bekal komunikasi spiritual kita. Dan itupun tidak cukup kalau kita hanya berpuas diri beribadah di sepanjang bulan Ramadhan saja dan sekeluarnya dari bulan ini tidak melakukannya. Justru mulai saat ini kita bangkitkan ikhlash melalui ibadah yang satu ini.
Sholat sendirian ditengah malam yang gelap gulita dan sunyi dan hanya berkomunikasi dengan Allah swt adalah waktu yang sangat baik untuk mendatangkan energi ikhlash.

Catatan Penting :
  1. Ditulis/Dirangkum dari ceramah yang disampaikan oleh Utadz Rofi’ Munawar, Lc. dalam beberapa kali kesempatan acara Halal Bihalal.
  2. Trimakasih atas zakat-infaq-shodaqoh dari para rekan sekalian yang dititipkan melalui saya selaku RELAWAN AMIL ZAKAT LMI (LEMBAGA MANAJEMEN INFAQ). Semoga Allah senantiasa mencurahkan segenap rahmat, hidayah, maghfiroh dan barokah-Nya untuk kita semua. Dan seluruh amal kita dicatat sebagai ibadah yang nantinya dapat memperberat timbangan kebaikan kita di yaumil qiyamah. Amiin

Catatan Idul Fitri I : kembali ke FITHRAH

Kembali saat ini kita masih bisa menikmati suasana Idul Fitri 1428 meskipun masih ada juga perbedaan dalam penentuan 1 Syawalnya sehingga ummat ini akhirnya ber-idul fitri tidak lagi bersamaan. Dan Alhamdulillah dalam tradisi muslim jawa kemarin baru saja melaksanakan LEBARAN KETUPAT, yang tentu saja ditandai dengan melimpahnya makanan seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng ati dsb.
FITHRAH DALAM SYMBOL
Belum selesai Ramadhan, kebanyakan kita sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan “symbol” ini, dari mulai mempersiapkan BAJU BARU untuk keluarga dan kita sendiri, persiapan MUDIK ke kampung halaman sampai dengan acara HALAL BIHALAL / REUNI-AN. Kebanyakan kita juga tidak merasa sedih ketika Ramadhan akan segera berakhir (baca : sepuluh hari terakhir ramadhan) karena disibukkan dengan euphoria kegiatan “symbol” seperti yang tersebut di atas.
Masjid yang pada awal Ramadhan “ramai”, menjelang akhir ramadhan ini sudah mulai “sepi” lagi, bahkan ada masjid yang “terkunci” di malam hari padahal kita disunahkan untuk melaksanakan I’TIKAF di Masjid. Pergerakan manusia sudah mulai bergeser ke tempat dimana persiapan kegiatan “symbol” dibutuhkan. Pusat perbelanjaan (baca : Mal-Mal) mendadak ramai apalagi setelah menerima THR, juga pusat-pusat pembelian tiket (terminal, stasiun, demaga, bandara, dll) selain juga kadang Pusat Hiburan.
FITHRAH DALAM MUHASABAH
Kita sudah terlanjur larut dalam hiruk pikuk kegiatan “symbol” tersebut di atas. Bukannya tidak penting kegiatan ini, tapi kita perlu menanyakan lagi kepada diri kita yang paling dalam, apakah Ramadhan tahun ini sudah membekas di dalam sanubari kita ?. Ramadhan yang maknanya “MEMBAKAR” apakah sudah betul-betul membakar dosa-dosa kita dan mengantarkannya pada “TAUBATAN NASUHA” ?.
Dari maknanya secara harfiah, salah satu pengertian IDUL FITRI diterjemahkan dengan kembali kepada FITHRAH atau KESUCIAN, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan Ramadhan. Dan karenanya ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.
Seiring dengan datangnya bulan SYAWAL yang artinya adalah bulan PENINGKATAN sewajarnya kita perlu bertanya sekali lagi seberapa kita mau meningkatkan kuantitas & kualitas HIDUP & IBADAH saat ini dan mendatang.
Sebelum itu, kita perlu juga bersimpuh dihadapan Allah SWT dengan penuh ketundukan dan keta’atan dan berdo’a kepada-Nya :
Ya Allah, terimalah ibadah puasa-ku, terimalah qiyamullail-ku, terimalah tilawah qur’an-ku, terimalah zikir-ku, terimalah amal infaq-shodaqoh-zakat-ku dan amalan ibadah kebaikan yang sempat kuperbuat selama bulan Ramadhan kemarin.
Jadi amal IBADAH & kualitas HIDUP yang seperti apakah yang sudah kita persiapkan untuk kita laksanakan segera setelah berlalunya bulan Ramadhan ?.
Hari ini harus lebih baik dari sekarang dan hari yang akan datang harus lebih baik dari hari ini.
Catatan Penting :
hanya sebuah untaian do’a supaya ramadhan bermakna di hati dan membekas dalam amal hidup yang kujalani saat ini. Amiin.

Tuesday, October 09, 2007

Menciptakan Harmonisasi Keluarga

Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk melakukan harmonisasi keluarga. Betapa banyak aktifitas ibadah di bulan ramadhan yang bisa kita lakukan bersama-sama kelurga, seperti buka bersama keluarga, sahur bersama keluarga, sholat tarawih berjama’ah dengan keluarga dan aktifitas lainnya yang sangat sayang kalau itu kita lakukan sendirian.
Kita bisa mendengarkan celoteh anak-anak kita yang membaca do’a berbuka puasa meskipun dengan sedikit cadel dan suasana lainnya yang terasa sangat indah dan membangkitkan semangat beribadah kita kepada Allah SWT. Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW, yaitu mengajak serta seluruh anggota keluarganya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Hal ini bisa kita lihat dalam salah satu riwayat hadist yang mengungkapkan tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh hari yang terakhir di bulan ramadhan, yaitu :
  1. MengHIDUPkan MALAM dengan banyak beribadah kepada Allah SWT.
  2. MengKENCANGkan ikat pinggangnya, maksudnya : mengurangi makan, mengurangi waktu tidur
  3. MemBANGUNkan keluarganya, supaya bersama-sama beribadah kepada Allah SWT.
Melalui ramadhan yang penuh rahmat ini, sudahkah kita harmonis dengan keluarga kita? Untuk melengkapi khasanah pemahaman kita, mari kita lihat bagaimana Al Qur’an bicara tentang keluarga.
Ketika menjelaskan tentang keluarga, Al Qur’an banyak mengungkapkan setting keluarga dengan menggunakan setting perhatian, diantaranya :
PERHATIAN YANG LUNAK
Maksudnya adalah bahwa Al Qur’an menjelaskan keluarga itu secara biasa-biasa saja dengan menyebutkan secara spesifik karakter-karakter keluarga. Sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi (18) : 46 berikut :
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”
PERHATIAN YANG KERAS
Maksudnya adalah bahwa Al Qur’an meminta kita untuk memperhatikan keluarga secara baik karena keluarga juga memiliki potensi fitnah. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Anfal (8) : 28, berikut ini.
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan/fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
PERHATIAN YANG SANGAT KERAS
Maksudnya adalah bahwa Al Qur’an memberikan peringatan yang sangat menggugah kepada kita semua agar mampu membawa keluarganya kepada kehidupan yang diridhoi Allah SWT dan menghindarkanya dari siksa api neraka. Hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’an Surat at Tahrim (66) : 6, berikut ini.
“Wahai orang-oarang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”
Sehingga melalui momentum ramadhan ini marilah kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah-mawadah-warahmah yaitu keluarga yang senantiasa dilandasi dengan beribadah kepada Allah SWT. Dan untuk mewujudkan itu semua, paling tidak kita harus menjadikan keluarga kita menjadi :
KELUARGA SEBAGAI MASJID
Masjid adalah tempat ibadah, sehingga kita harus membangun iklim ibadah di dalam keluarga. Hal ini terlihat didalam setiap perilaku anggota keluarga kita yang senantiasa mencerminkan nilai-nilai ibadah kepada Allah SWT.
KELUARGA SEBAGAI SEKOLAH
Sekolah adalah tempat belajar/menuntut ilmu, sehingga kita harus menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang senantiasa melakukan proses pembelajaran. Ada kalanya kita menjadi guru dan ada kalanya juga kita menjadi murid. Dengan kata lain semuanya adalah sumber ilmu dan sumber keteladanan.
KELUARGA SEBAGAI PERPUSTAKAAN
Perpustakaan adalah pusat rujukan berbagai ilmu, sehingga kita harus menjadikan keluarga kita sebagai pusat rujukan bagi yang lainnya.
(Dirangkum dari Ceramah Ba'da Dhuhur oleh Ustadz Rofi' Munawar, Lc-Wakil ketua Komisi E DPRD Jatim-Bapak dari delapan anak)

Menegakkan Nilai-Nilai Ramadhan

Ramadhan Segera Berlalu
Seiring dengan cepatnya waktu berlalu, ternyata tanpa terasa ramadhan begitu cepatnya berjalan meninggalkan kita. Padahal kita belum maksimal membaca Al-Qur’an, belum maksimal shalat malam, belum maksimal melaksanakan shiyam dan juga belum optimal untuk melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Setetes air mata mengalir dari ujung mata, perasaan sedih bergemuruh dalam kalbu, Ya Allah, akankah Ramadhan tahun depan, kami masih dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan?
Dahulu para salafuna shaleh, air mata mereka meleleh membasahi pipi dan lihyah lantaran Ramadhan pergi meninggalkan mereka. Terkadang dari lisan mereka terucap sebuah doa, sebagai ungkapan kerinduan akan datangnya ramadhan dan ramadhan :
”Ya Allah SWT, anugerahkanlah lagi kepada kami bulan Ramadhan, anugerahkanlah lagi kepada kami bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan…”
Didalam suatu kesempatan Rasulullah saw, melakukan mutaba’ah/evaluasi terkait prestasi ibadah para Sahabat dan diabadikan dalam hadist :
”Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Siapa di antara kalian berpuasa pada hari ini?" Abu Bakar berkata: "Saya." "Lalu siapa yang ikut mengantar jenazah?" tanya Rasulullah saw. Abu Bakar menjawab: "Saya." "Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin?" tanya RasuluLlah saw. Abu Bakar menjawab: "Saya." "Lalu siapa yang hari ini menjenguk orang sakit?" tanya Nabi saw. Abu Bakar menjawab: "saya." Rasulullah saw. bersabda: "Tidaklah semua perkara yang saya sebutkan tadi ada pada satu orang kecuali orang itu akan masuk surga."

Nilai / Pilar Ramadhan
Berdasarkan khutbah Rasulullah saw menjelang memasuki bulan Ramadhan dan hadist di atas, ada 4 NILAI / PILAR yang bisa kita jadikan acuan untuk melakukan mutaba’ah/evaluasi perjalanan ramadhan tahun ini dan sekaligus sebagai NILAI / PILAR yang harus kita tegakkan setelah keluar dari bulan ramadhan tahun ini, yaitu :
  1. Nilai Ubudiyah
  2. Nilai Akhlaq
  3. Nilai Sosial
  4. Nilai Intelektual
1-NILAI UBUDIYAH
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.
Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Selama bulan Ramadhan, kita senantiasa dikondisikan dengan pelaksanaan ibadah baik yang wajib maupun sunnah. Semua berbondong-bondong untuk menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya guna mendapatkan kemuliaan dan pahala di bulan Ramadhan. Masjid mendadak ramai diserbu jama’ah meskipun berangsur-angsur juga sepi (kembali ke posisi semula sebelum datangnya bulan Ramadhan).Diantara amalan yang kita tegakkan adalah Shiyam (puasa), Qiyamullail (Sholat Tarawih), membaca (tadarus Al Qur’an), I’tikaf di sepuluh hari terakhir dan juga dzikir untuk mengagungkan asma-Nya.
2-NILAI AKHLAQ
Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
Dari Ramadhan, banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran, diantaranya latihan jujur, tidak melakukan maksiyat, memupuk aspek kedisiplinan dalam setiap langkah kehidupan kita, dll.
3-NLAI SOSIAL
Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Dalam sebuah hadist, dikatakan :
”Umar bin Khaththab ra. Menceritakan : Pada suatu hari Rasulullah saw. menyuruh kami bersedekah. Kuyakinkan: Hari ini aku mendahului Abu Bakar jika aku mengalahkannya. Kemudian aku datang membawa separuh hartaku. Rasulullah saw. bertanya: ‘Apa yang engkau sisakan bagi keluargamu?’ ‘Sebanyak itu’, jawabku. Setelah itu Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah saw. bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau sisakan bagi keluargamu?’ Abu Bakar menjawab: ‘Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul Nya’. ‘Umar berkata: ‘Aku tidak akan berlomba lagi denganmu dalam sesuatu kebaikan”. (Hadits hasan riwayat Abu Dawud)

Didalam Al Qur’an juga dikatakan :
”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah : 261)
Jadi, siapa yang belum menunaikan Zakat, Infaq dan Shodaqoh.....(bisa saya bantu insyaallah untuk membayarkannya...he...he....)
4-NILAI INTELEKTUAL
Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Hampir setiap hari kita disirami dengan ceramah agama yang berfungsi untuk memberikan CHARGE bagi pemahaman wawasan agama kita. Juga aktifitas membaca Al Qur’an (tadarus) yang dilaksanakan sendiri maupun bersama di Masjid/Musholla yang membantu kita untuk lebih mengenal ayat-ayat allah SWT.
Yang Kita Lakukan Pasca Ramadhan......?
  1. ISTIQOMAH (komitmen) untuk selalu menegakkan Nilai/Pilar Ramadhan
  2. Ber-AZAM/bertekad melakukan amal ibadah (yang selama ini belum pernah dilakukan)
  3. Ber-DO’A kepada Allah SWT, supaya memberi kita HIDAYAH
Makna Iedul Fitri
  1. Iedul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah atau kesucian, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan ramadhan. Dan karenanya ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.
  2. Iedul Fitri diterjemahkan dengan hari raya berbuka, dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah SWT, pada hari Idul Fitri ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.
Terakhir, mari kita sempurnakan ibadah ramadhan kita dengan melaksanakan puasa sunnah ENAM hari di bulan syawal.
”Barang siapa puasa ramadhan dan diikuti puasa ENAM hari di bulan syawal, maka dia seperti puasa setahun penuh” (Hadist Rasulullah saw)

Wednesday, October 03, 2007

Amalan Ahli Surga

Syaikh Said Hawa dalam salah satu bukunya “TAZKIYATUN NAFS / MENYUCIKAN JIWA” yang merupakan ringkasan dari KITAB IHYA’ ULUMUDDIN – IMAM AL GHOZALI yang termahsyur itu menyampaikan bahwa, ada 5 prasyarat untuk masuk surga (tetap istiqomah berada dalam amalan ahli surga), diantaranya :
  1. Menjaga istiqomah & konsistensi dalam beribadah kepada Allah SWT
  2. Melakukan amal ibadah dengan penuh keseriusan
  3. Selalu menumbuhkan "muroqobatullah” baik dalam kesendirian maupun kebersamaan
  4. Menantikan datangnya kematian dengan penuh kesiapan
  5. Membiasakan diri untuk bermuhasabah
MENJAGA ISTIQOMAH & KONSISTENSI DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH SWT
Istiqomah berarti berpendirian teguh atas jalan yang lurus, berpegang pada akidah Islam dan melaksanakan syariat dengan teguh, tidak berubah dan berpaling walau dalam apa-apa keadaan sekalipun.
”Katakanlah (Wahai Muhammad) : ’Sesungguhnya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepada Aku bahwa Tuhan kamu hanyalah Tuhan yang satu, maka hendaklah kamu teguh di atas jalan yang betul lurus (yang membawa kepada mencapai keredhaan-Nya)……” (Q.S. Fushilat : 6)
(Rawahul Muslim) : Katakanlah: ”Saya beriman dengan Allah kemudian teguhkan pendirian kamu.”
MELAKUKAN AMAL IBADAH DENGAN PENUH KESERIUSAN
Ibadah secara bahasa bermakna merendahkan diri dan tunduk. Sedang secara istilah, ulama banyak memberikan makna. Namun makna yang paling lengkap adalah seperti yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu : Suatu kata yang meliputi segala perbuatan dan perkataan, zhohir maupun batin yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian ibadah terbagi menjadi tiga, yaitu : ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan.
Semua amalan dapat dikatakan sebagai ibadah yang diterima bila memenuhi dua syarat, yaitu Ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan Nabi shollallohu ‘alaihi wassalam). Kedua syarat ini terangkum dalam firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya :
“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS: Al Kahfi: 110).
SELALU MENUMBUHKAN "MUROQOBATULLAH" BAIK DALAM KESENDIRIAN MAUPUN KEBERSAMAAN
Muroqobah berarti Merasakan kesertaan Allah dalam setiap aktifitas yang kita lakukan, Allah berfirman :
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud“ (Q.S. Asy Syura : 218-219)
Dan dalam Hadist tentang Ihsan, dikatakan :
“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan jika memang kamu tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu“
MENANTIKAN DATANGNYA KEMATIAN DENGAN PENUH KESIAPAN
Seperti yang tercantum dalam ayat Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) Tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang.
Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati. Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini :
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
MEMBIASAKAN DIRI BERMUHASABAH
Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisap atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri atau mudahnya adalah MENGEVALUASI.
Dalam melakukan muhasabah, seorang muslim menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik (beribadah) ataukah malah lebih banyak berbuat jahat (bermaksiat) dalam kehidupan sehari-hari. Dia mesti objektif melakukan penilaian, menggunakan Al Qur’an dan Sunnah sebagai dasar/basis melakukan penilaian, bukan berdasar keinginan diri/sesuka hati.

Tuesday, October 02, 2007

ada SURGA, kenapa harus ke NERAKA

Kembali megenang masa awal mentoring di kampus dulu, teringat apa yang disampaikan oleh mentor yang kebetulan adalah kakak kelasku ketika bicara ma’rifatul islam. Dikatakan bahwa ada hadsit Rasulullah SAW, yang kira-kira muatannya adalah : Allah menyediakan 2 jalan untuk manusia yaitu “shirathal mustaqim” (jalan lurus), yang merupakan jalan keselamatan yang ditempuh oleh orang-orang beriman dan “shiratus syaithan” (jalan syaithan), yang merupakan jalan kesesatan yang dilalui oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.
Dan Rasulullah SAW mengibaratkannya dengan menggambarkan diatas tanah dengan menarik sebuah garis lurus untuk menggambarkan jalan lurus tadi, kemudian menarik garis yang lain yang tegak lurus garis yang pertama tadi untuk menggambarkan betapa jebakan jalan kesesatan itu begitu beragam dan banyak sekali.
Sejalan dengan hadist Rasulullah SAW tadi, ada falsafah orang jawa yang pernah diungkapkan oleh pak shahab (dosen teknik mesin its) dulu yaitu : bahwa orang jawa sering menggambarkan surga & neraka itu dengan, MUNGGAH suargo-NYEMPLUNG neroko.
Pertanyannya, kenapa orang jawa mengatakan demikian, kalau kita lihat lebih dalam lagi bahwa untuk menggapai surga itu orang jawa mengatakannya dengan “MUNGGAH”. Yang artinya adalah ada usaha besar yang dilakukan untuk meraih syurga baik itu pengorbanan jiwa-raga, financial maupun pengorbanan lainnya. Seperti misalanya ayo munggah gunung berarti ada usaha sekian lama dengan pengorbanan yang dikeluarkan dan ada konsekuensi yang ditanggungnya.
Sedangkan untuk menuju neraka memakai istilah “NYEMPLUNG” yang dalam bahasa jawa berarti tidak perlu energi besar untuk meraihnya atau dalam bahasa lain adalah bisa dikatakan kecepatan & percepatan awalnya nol karena tidak ada energi yang dikeluarkan. Seperti dulu ketika masih kecil, misalnya rek ayo nyemplung kali misalnya, ya sudah tinggal nyebur begitu saja, nyaris tanpa usaha yang berat.
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”
(Al Baqarah : 25)

Catatan Penting :
Sebuah ikhtiar untuk menyambut Ramadhan etape-3 dimana didalamnya diberi kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan “LAILATUL QADAR” dan amalan istimewa “I’TIKAF” serta pembebasan dari api neraka “ITQUM MINAN NAAR”
Teriring Do’a : “asyhadu ala ilaha illallah wa asyhadu ana muhamadarrasulullah, astaghfirullah, nas’aluka ridhoka wal jannah wa na’udzubika min syaqotika wan naar”