Monday, October 22, 2007

Catatan Idul Fitri I : kembali ke FITHRAH

Kembali saat ini kita masih bisa menikmati suasana Idul Fitri 1428 meskipun masih ada juga perbedaan dalam penentuan 1 Syawalnya sehingga ummat ini akhirnya ber-idul fitri tidak lagi bersamaan. Dan Alhamdulillah dalam tradisi muslim jawa kemarin baru saja melaksanakan LEBARAN KETUPAT, yang tentu saja ditandai dengan melimpahnya makanan seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng ati dsb.
FITHRAH DALAM SYMBOL
Belum selesai Ramadhan, kebanyakan kita sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan “symbol” ini, dari mulai mempersiapkan BAJU BARU untuk keluarga dan kita sendiri, persiapan MUDIK ke kampung halaman sampai dengan acara HALAL BIHALAL / REUNI-AN. Kebanyakan kita juga tidak merasa sedih ketika Ramadhan akan segera berakhir (baca : sepuluh hari terakhir ramadhan) karena disibukkan dengan euphoria kegiatan “symbol” seperti yang tersebut di atas.
Masjid yang pada awal Ramadhan “ramai”, menjelang akhir ramadhan ini sudah mulai “sepi” lagi, bahkan ada masjid yang “terkunci” di malam hari padahal kita disunahkan untuk melaksanakan I’TIKAF di Masjid. Pergerakan manusia sudah mulai bergeser ke tempat dimana persiapan kegiatan “symbol” dibutuhkan. Pusat perbelanjaan (baca : Mal-Mal) mendadak ramai apalagi setelah menerima THR, juga pusat-pusat pembelian tiket (terminal, stasiun, demaga, bandara, dll) selain juga kadang Pusat Hiburan.
FITHRAH DALAM MUHASABAH
Kita sudah terlanjur larut dalam hiruk pikuk kegiatan “symbol” tersebut di atas. Bukannya tidak penting kegiatan ini, tapi kita perlu menanyakan lagi kepada diri kita yang paling dalam, apakah Ramadhan tahun ini sudah membekas di dalam sanubari kita ?. Ramadhan yang maknanya “MEMBAKAR” apakah sudah betul-betul membakar dosa-dosa kita dan mengantarkannya pada “TAUBATAN NASUHA” ?.
Dari maknanya secara harfiah, salah satu pengertian IDUL FITRI diterjemahkan dengan kembali kepada FITHRAH atau KESUCIAN, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan Ramadhan. Dan karenanya ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.
Seiring dengan datangnya bulan SYAWAL yang artinya adalah bulan PENINGKATAN sewajarnya kita perlu bertanya sekali lagi seberapa kita mau meningkatkan kuantitas & kualitas HIDUP & IBADAH saat ini dan mendatang.
Sebelum itu, kita perlu juga bersimpuh dihadapan Allah SWT dengan penuh ketundukan dan keta’atan dan berdo’a kepada-Nya :
Ya Allah, terimalah ibadah puasa-ku, terimalah qiyamullail-ku, terimalah tilawah qur’an-ku, terimalah zikir-ku, terimalah amal infaq-shodaqoh-zakat-ku dan amalan ibadah kebaikan yang sempat kuperbuat selama bulan Ramadhan kemarin.
Jadi amal IBADAH & kualitas HIDUP yang seperti apakah yang sudah kita persiapkan untuk kita laksanakan segera setelah berlalunya bulan Ramadhan ?.
Hari ini harus lebih baik dari sekarang dan hari yang akan datang harus lebih baik dari hari ini.
Catatan Penting :
hanya sebuah untaian do’a supaya ramadhan bermakna di hati dan membekas dalam amal hidup yang kujalani saat ini. Amiin.
Post a Comment