Monday, October 22, 2007

Catatan Idul Fitri II : Emansipasi & Kesetaraan

Dalam suatu kesempatan pasca Hijrah, Rasulullah saw mengumpulkan para Tokoh dan Kaum Muslimin yang ada di Madinah. Rasulullah saw menyampaikan pidato yang sangat fenomenal dan karenanya dibadikan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berikut ini :
”ayyuhan naas ; absus salam, wa ath’imu tho’am, wasilul arham, washollu bilaili wannaasu niyam”
”wahai sekalian manusia ; tebarkanlah salam, dan berikanlah makanan, dan sambung silaturrahim, dan sholatlah di malam hari saat manusia tidur”
Dalam syarahnya, Imam Tirmidzi menyampaikan bahwa Rasulullah mengawali pidatonya dengan ”AYYUHAN NAAS” adalah untuk menunjukkan bahwa manusia itu memiliki kesetaraan dihadapan Allah SWT. Tidak ada perbedaan antara kaya & miskin, pejabat & bawahan, kuat & lemah kecuali TAQWA nya dihadapan Allah SWT. Jadi jauh sebelum dunia berteriak tentang emansipasi & kesetaraan, Rasulullah saw sudah membuktikan kesetaraan pada tingkat yang aplikatif bukan hanya sekedar retorika.
ABSUS SALAM : TEBARKANLAH SALAM
Salam disni mengandung tiga pengertian sekaligus, yaitu : Assalam (Keselamatan), Assilmi (Kedamaian) dan Arrahmah (Kasih Sayang). Sehingga salam sesungguhnya adalah do’a yang disampaikan muslim yang satu kepada muslim yang lain. Yang namanya do’a maka harus disampaikan dengan penuh keikhlasan dan penuh persaudaraan. Tidaklah logis kalau ada orang mengawali marahnya dengan mengucapkan salam misalnya. Karena ”Salam” adalah do’a dan simbul cinta antar sesama muslim.
Dalam sebuah buku ”Pilar-Pilar Ajaran Islam” yang ditulis oleh salah seorang ulama India, disampaikan bahwa : SHOLAT merupakan ibadah yang komplit. Selain isi/rukun sholat secara keseluruhan, sholat diawali TAKBIRATUL IKRAM yang merefleksikan KEKUATAN SPIRITUAL (hablumminallah) dan diakhiri dengan SALAM yang merefleksikan KEKUATAN SOSIAL (hablumminannaas).
WA ATH’IMU THO’AM : BERIKAN MAKANAN
Berikan makanan atau bisa juga diartikan sebagai ”TEBARKAN KEPEDULIAN” kepada sesama manusia merupakan bentuk komunikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat & beragama.
Dalam Islam, yang namanya komunikasi sosial yang berupa ”diplomasi perut” itu bukan hanya sekedar memberikan secara ”materi” tetapi jauh dari itu adalah bagaimana komunikasi itu terjalin secara baik dengan bahasa hati. Hal ini bisa kita lihat bagaimana akhlaq Rasulullah saw, yang diabadaikan dalam shiroh :
Rasulullah memiliki tetangga wanita tua yahudi yang seringkali memaki-maki Rasulullah saw dengan tuduhan/fitnah yang keji. Pada suatu hari wanita tua ini sakit dan tidak bisa beranjak dari peraduannya. Rasulullah saw. adalah orang yang pertamakali menjenguknya dan setiap hari beliau memBERI makanan dan MENYUAPInya. Dan setiap hari ketika Rasulullah saw. Menyuapi, wanita tadi terus-terusan memaki-maki Rasulullah (wanita ini tidak tahu kalau yang menyuapi adalah Muhammad, Rasulullah saw). Ketika Rasulullah saw merasa ajalnya sudah mulai dekat, beliau berwasiat kepada Abu Bakar supaya merawat wanita tua tadi.
Sepeninggal Rasulullah saw. Abu Bakar yang menggantikan untuk memberi makan kepada wanita tadi. Wanita tadi kagetnya bukan main dan mengatakan : ”kamu sepertinya bukan orang yang biasanya datang kepadaku karena aku tidak hanya diberi makanan tapi juga disuapinya”. Betapa terkejutnya Abu Bakar, dan beliau berkata : ”wahai wanita tua, ketahuilah yang selama ini datang kepada kamu adalah Muhammad, Rasulullah saw, orang yang kau benci, dan sekarang sudah wafat”. Akhir cerita wanita yahudi tadi masuk islam dengan melihat sendiri kepribadian Rasulkullah saw yang luar biasa.
Kita sangat trenyuh dengan model pemberian bantuan yang akhir-akhir ini masih dilakukan para PENGUASA/PEJABAT/ORANG KAYA saat memberikan bantuan yang seolah ingin menunjukkan keDIGDAYAannya. Kita bisa lihat berapa bantuan yang didapat dengan pengorbanan yang sangat besar. Media mencatat beberapa orang meninggal dan beberapa lainnya perlu mendapatkan perawatan karena berdesakan untuk menerima belas kasihan dari SANG DIGDAYA tadi. Naudzubillahimindzalik.
WASILUL ARHAM : SAMBUNG SILATURRAHIM
Wasilul Arham, dalam istilah manajemen cukup populer dengan sebutan ”MEMPERLUAS JARINGAN” merupakan upaya untuk menambah saudara dan sekaligus meningkatkan kualitas hubungan persaudaraan. Dari sini kita akan mendapatkan hasanah yang beragam seiring dengan banyaknya saudara yang kita jalin disamping juga terselipnya peluang dan hikmah yang bisa kita ambil bersama.
Menyambung silaturrahim kepada orang yang tidak ada masalah dengan kita sangatlah mudah, tetapi kalau kita mendatangi orang yang memutus tali silaturrahim dengan kita maka ini adalah pekerjaan berat. Dan memang ”Sambung Silaturrahim” ini lebih dititikberatkan kepada orang yang meutus hubungan dengan kita.
Dalam Alqur’an Surat Annisa (4) : 1, disampaikan :
”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan SILATURRAHIM. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”
WASHOLLU BILAILI WANNAASU NIYAM : SHOLATLAH DI MALAM HARI SAAT MANUSIA TIDUR
Poin 1,2 dan 3 diatas dari pidato Rasulullah saw tersebut adalah bentuk KOMUNIKASI SOSIAL sedangkan di poin 4 ini adalah bentuk KOMUNIKASI SPIRITUAL. Artinya bahwa setelah kita melakukan aktifitas dalam kehidupan ini, disamping kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan selanjutnya kita bertawakal kepada Allah SWT. Jangan sampai sejengkalpun kita melangkah tanpa menyertakan Allah SWT didalamnya.
Menurut Imam al-Qusyairi an-Naisabury, bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuannya.
Selama satu bulan penuh kita digembleng untuk melaksanakan QIYAMULLAIL sebagai bekal komunikasi spiritual kita. Dan itupun tidak cukup kalau kita hanya berpuas diri beribadah di sepanjang bulan Ramadhan saja dan sekeluarnya dari bulan ini tidak melakukannya. Justru mulai saat ini kita bangkitkan ikhlash melalui ibadah yang satu ini.
Sholat sendirian ditengah malam yang gelap gulita dan sunyi dan hanya berkomunikasi dengan Allah swt adalah waktu yang sangat baik untuk mendatangkan energi ikhlash.

Catatan Penting :
  1. Ditulis/Dirangkum dari ceramah yang disampaikan oleh Utadz Rofi’ Munawar, Lc. dalam beberapa kali kesempatan acara Halal Bihalal.
  2. Trimakasih atas zakat-infaq-shodaqoh dari para rekan sekalian yang dititipkan melalui saya selaku RELAWAN AMIL ZAKAT LMI (LEMBAGA MANAJEMEN INFAQ). Semoga Allah senantiasa mencurahkan segenap rahmat, hidayah, maghfiroh dan barokah-Nya untuk kita semua. Dan seluruh amal kita dicatat sebagai ibadah yang nantinya dapat memperberat timbangan kebaikan kita di yaumil qiyamah. Amiin
Post a Comment