Friday, December 28, 2007

Catatan Akhir Tahun : Jangan Menyerah

Anak kecil itu…………..
Seringkali saat maghrib menjelang, aku mendengar lengkingan suara anak kecil ”roti........roti...........roti.........” Setelah kulihat memang ada anak kecil lima tahunan yang melintas didepan rumahku dengan sepeda mininya membonceng keranjang yang berisi makanan yang sedang dijajakan, mengiringi didepannya adalah orang dewasa seperti ayahnya juga membonceng keranjang yang sama.
Pernah suatu hari di hujan yang cukup deraspun mereka tetap menjajakan makanannya berkeliling di kompleks perumahan yang kutempati. Seperti biasa sang anak kecil dengan begitu riang dan semangatnya meneriakkan suara khasnya “roti…..roti……”
Hari itu mereka bertiga ditambah adik sang anak kecil yang umurnya dua tahunan dibonceng ayahnya di depan. Disela-sela lengkingan suara anak kecil menjajakan makanannya, juga diiringi dengan gurauan dan tertawa ringan dari ketiganya seolah mencerminkan kegembiraan dan begitu akrabnya kombinasi ayah dan anak ini.
Kemarin saat aku menuju masjid dekat rumah untuk menunaikan sholat maghrib, seperti biasa melintas mereka didepanku dan anehnya mereka berdua saja tanpa ditemani ayahnya. Tepat diperempatan jalan depan masjid, mereka berhenti dan kembali sambil berteriak sang kakak bersenda gurau dengan adiknya dengan begitu riangnya.
Saya tidak tahu apa yang ada didalam dada kedua orang tua mereka, kalau itu dijadikan sebagai “edukasi” maka sungguh luar biasa kelak anak ini. Menjadi entrepreneur yang tangguh karena sejak dini sudah diajarkan sebuah tanggung jawab dan yang penting “mendobrak” kebiasaan anak kebanyakan seusianya.
Hari ini kita belajar kegigihan anak kecil ini yang sudah mengalahkan ego kekanakannya untuk terus berusaha dengan penuh keceriaan.
Anak perempuan itu………
Saat istriku melakukan wawancara calon penerima beasiswa program “gerakan peduli anak bangsa” yang dikelolanya beberapa waktu lalu, menjumpai anak perempuan yang begitu luar biasa. Dia merantau bersama kakaknya jauh dari orang tuanya ke Surabaya.
Disamping bekerja disalah satu rumah makan babi, kedua adik kakak ini sama-sama masih menjalankan studinya masing-masing dengan biaya sendiri. Sang kakak kuliah di salah satu perguruan tinggi dan sang adik masih sekolah di smp.
Anak perempuan ini berbeda, setiap waktu dia selalu menyampaikan keluahannya ke orang tuanya yang jauh darinya karena disamping terlalu banyak aturan dalam pekerjaannya juga yang sangat dia sesali adalah waktu sholat yang terkadang sulit ditunaikan. Pernah suatu waktu saat ada kesmpatan istirahat sementara dia sudah wudhu dan dia berjanji untuk sholat tiga menit saja, tetap tidak dibolehkan dan akhirnya terlewat.
Ya anak ini sekolah dari pagi sampai siang hari kemudian sore sampai dengan malam hari bekerja ditempat yang tadi saya sebutkan. Selama ini dia sebagai pencuci piring dengan gaji Rp. 200.000,- saja. Dia sebenarnya sudah lama kepingin sekali pindah dari tempat kerja ini tapi susah mencari kerja untuk saat ini, katanya.
Anak itu begitu bersyukur dan gembira ketika istriku memberitahukan bahwa ada counter HP milik temannya yang membutuhkan karyawan. Dan saat itu juga sorenya dia pamitan dari tempat kerja lamanya dan besoknya sudah mulai kerja ditempat barunya. Tentunya dengan tetap bisa leluasa beribadah dan gajinya lebih besar dari sebelumnya.
Disini kita belajar keteguhan hati dari seorang anak wanita, sepanjang ada niat dan ikhtiar dan tentu saja do’a pastilah ada jalan............
Sekali menyerah akan ketagihan
Dalam bukunya Kang Abik yang berjudul ”Ketika Cinta Bertasbih 2”, disampaikan bahwa sang tokoh Azzam tidak mau rasa putus asa menjamah dirinya bahkan berkenalan-pun tidak mau dengan yang namanya putus asa. Karena dia ingat pesan Vince Lombard :
”Once your learn to quit, it becomes a habit !”
“Sekali saja kamu belajar untuk berputus asa, maka akan menjadi kebiasaan !”
Seandainya kita pernah gagal akan suatu hal ataupun dalam suatu bisnis misalnya, ini bukanlah apa-apa karena Allah pasti menggantinya dengan kebahagiaan dan kesuksesan di waktu yang lain.
Rasulullah saw. bersabda, ”Seorang hamba akan selalu berada dalam kebaikan selama ia tidak terburu-buru. Dia ditanya, ’Apakah yang engkau maksud dengan terburu-buru wahai Rasulullah ?’ Dia menjawab, Yaitu seseorang yang berkata, 'Aku telah berdo’a kepada Tuhanku, namun sampai kini belum terjawab juga”
Tapi kalau kita gagal bersyukur maka jangan harap nikmat Allah yang berupa rahman dan rahim-Nya akan menghampiri kita. Maka jangan pernah berputus asa terhadap nikmat dan rahmat Allah swt. Karena rahmat-Nya sangat dekat bahkan dekat sekali..........
”...........Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim : 7)
Pada saat menemukan Lampu Pijar, Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan sebanyak 9.998 kali. Baru pada percobaannya yang ke 9.999 dia berhasil secara sukses menciptakan lampu pijar yang benar-benar menyala terang.
Pada saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya : Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab: “SAYA SUKSES, KARENA SAYA TELAH KEHABISAN APA YANG DISEBUT KEGAGALAN”.
Bahkan saat dia ditanya apakah tidak bosan dengan kegagalannya, Thomas Alfa Edison menjawab: “DENGAN KEGAGALAN TERSEBUT, SAYA MALAH MENGETAHUI RIBUAN CARA AGAR LAMPU TIDAK MENYALA”.
Semoga Allah berkenan atas ikhtiar kita dan memberikan curahan rahmat dan barokahnya untuk kejayaan kita semua. Amiin......

Monday, December 24, 2007

Welcome The Rise Of Marketing 3.0

Beberapa saat yang lalu, tim Annida Islamic Kids Wear berkesempatan untuk hadir dalam seminar marketing yang diselenggarakan Rotary Club dengan tajuk “Marketing 3.0, Values-Driven Marketing”. Tidak tanggung-tanggung, seminar ini menghadirkan pakar & praktisi marketing yang tidak asing lagi dikalangan entrepreneur, yaitu Hermawan Kartajaya dan Tanadi Santoso.
Pada tulisan ini, saya akan coba menyampaikan penuturan dari sang begawan marketing, Hermawan Kartajaya yang mengulas konsep marketing 3.0.
Penjelasannya diawali dengan menunjukkan satu persatu focus dari versi marketing yang selama ini pernah ada.
Marketing 1.0 (baca : one point “o”), adalah marketing yang berfokus pada produk atau dengan istilah lain disebut “Product-Centric Era”. Dimana kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan produsen. Disini, konsumen sedikit diabaikan dan yang penting adalah bagaimana produsen membuat produk yang bagus dan laku dipasaran.
“any customer can have a car painted any color that he wants so long as it is black”
(Henry Ford)
Marketing 2.0 (baca : two point “o”), adalah marketing yang berfokus pada pelanggan, dengan istilah lain disebut “Customer-Centric Era”. Lebih maju dari marketing 1.0, disini kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan pelanggan. Selain produk yang bagus juga memperhatikan aspek keinginan pasar yang ada.
“The Success of Starbucks demonstrates the fact we have built an emotional connection with our customer….Once they tasted ours and experienced what we call ‘the third place’ – a gathering place between home and work where they where treated with respect – they found we where filling a need they didn’t know they bad”
(Howard Schultz, CEO of Starbucks)
Marketing 3.0
Dan yang paling mutakhir adalah Marketing 3.0 (baca : three point “o”), yaitu marketing yang berfokus pada kemanusiaan, dan disebut dengan “Human-Centric Era”. Kegiatan marketing produk bukan yang utama lagi, karena disini pelaku bisnis justru lebih menonjol aktifitas kemanusiaannya, dengan berbagai kegiatan sosial maupun pelestarian lingkungan hidup.
Dame Anita Roddick (Founder of The Body Shop), adalah salah satu contoh bagaimana marketing 3.0 itu diterapkan. The Body Shop tidak pernah memasang iklan untuk produknya tetapi sang pemiliknya senantiasa tidak pernah lepas dari aktifitas sosial dan pelestarian lingkungan. Ketika ada mitranya yang telepon, dengan entengnya dia menjawab, “saya sekarang di afrika selatan untuk kegiatan sosial.” Nah lho…..
“She will be remembered not only as a great campaigner but also as a great entrepreneur”
“She campaigned for green issues before it became fashionable to do so and inspired millions to the cause by bringing sustainable products to a mass market”
(BBC News)
“Anita did more than run a successful ethical business : she was a pioneer of the whole concept of ethical and green consumersm”
(Tony Juniper, Director of Friends of the Earth)
“Dame Anita was an ‘incredible woman’ who was passionate about environmental and human rights issues”
(John Sauven, Executive Director of Greenpeace)
Three Forces Of New Trend
Ada tiga kekuatan di dalam trend baru ini (marketing 3.0) yang perlu diperhatikan, yaitu :
  1. DIGITALIZATION
  2. GLOBALIZATION
  3. FUTURIZATION
DIGITALIZATION, saat ini kita hidup dalam era teknologi brillian, dimana segala sesuatu dijalankan secara digital dan hanya dengan satu tombol ”klik” saja. Dengan ”BLOGS” kita bisa mengkomunikasikan apa saja termasuk apa yang akan kita jual kepada semua orang diseluruh dunia. Faktanya, ada sekitar 1.2 juta posting blog disetiap harinya atau 50 ribu blog terupdate tiap jamnya.

”We have moved beyond the information Age to the AGE OF PARTICIPATION
(Scott McNealy – Chairman and CEO Sun Microsystem)
GLOBALIZATION, kalau jaman dulu globalisasi identik dengan anggapan dunia yang kecil “Smaller World” dimana kita bisa tahu apapun yang terjadi di belahan bumi lain dengan akses informasi yang begitu terbuka. Maka saat ini globalisasi lebih diartikan sebagai “Flat World” dengan anggapan bahwa setiap individu dengan satu PC, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi leader. Faktor yang jelas yang mempengaruhi globalisasi model baru ini adalah “social culture” dan “political legal”.
“The global playing field is being leveled”
(Thomas Fiedman – Author of The World is Flat)
FUTURIZATION, untuk saat ini disamping menjadi “yang berbeda” juga diperlukan kreatifitas yang tinggi. Market, sebagai sasaran dalam bisnis sudah begitu cerdas untuk bisa menilai produk yang kita buat.
“We are beginning to work and live the way creative people like artists and scientists always have”
(Richard Florida – Author of The Rise of Creative Class)
Seperti yang pernah diceritakan kawan saya yang di Australia, ada produsen alat-alat rumah tangga di sana yang tidak menggunakan marketing secara langsung. Di awalnya produsen ini hanya melakukan aktifitas pelestarian lingkungan dengan menanam tanaman & bunga di sepanjang jalan suatu perkotaan.

Yang unik adalah setelah dua tahun, penduduk kota tersebut merasa berhutang kepada produsen tadi, akhirnya di tahun itulah produsen alat-alat rumah tangga tadi baru mendapatkan "nikmat" dari usaha mulianya selama ini karena penduduk kota tersebut menggunakan alat-alat rumah tangga yang diproduksinya. Nah, apa hubungannya coba alat rumah tangga dengan tanaman........

Catatan Penting :

Wah, sayang kameranya lagi ngadat, jadinya hasil jepretannya kacau banget. maaf foto kami belum bisa tampil nih he..he....


Untuk menghadapi tahun baru hijriyah 1429 H, annida islamic kids wear meluncurkan model baru, lihat saja di : http://annidaku.blogspot.com/

Friday, December 14, 2007

Peluang Bisnis Recehan

Membaca postingan Pak Roni, “Jangan Remehkan Bisnis Recehan” saya jadi teringat SMS yang disampaikan salah satu mentor saya yang punya bisnis SPBU itu, beberapa hari yang lalu, kira-kira bunyinya seperti ini :
“peluang bisnis jual elpiji refill 3 kg tabung hijau (bersubsidi) bukan tabung biru. untuk wilayah surabaya, sidoarjo, gresik, lamongan. modal ringan…..”
Memang kalau dilihat, keuntungan per-tabung untuk agen sekitar Rp. 1.000,- saja. Memang sedikit untuk ukuran orang yang sudah terbiasa dengan keuntungan puluhan ribu seperti bisnis garmen, keuntungan ratusan ribu atau bahkan jutaan seperti kontraktor yang saya geluti he..he.. (meskipun jarang proyeknya)
Tapi ingatkah saudara, bahwa ini adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda lagi. Seperti kalau kita tanya ke pedagang voucher pulsa, yang sering laku adalah voucher dengan harga Rp. 5.000,- atau Rp. 10.000,-.
Nah inikan kebutuhan sehari-hari, estimasi kalau dipakai rutin paling seminggu sudah habis. Jadi untuk sebulan bisa mengkonsumsi minimal 4 tabung untuk tiap keluarga. Dan harganya terhitung murah karena bersubsidi, beda dengan yang tabung biru, harga pertabung hijau ini sekitar Rp. 13.000,-
Saat ini, ada yang sudah ambil untuk wilayah sidoarjo. Karena masyarakat disini sebagainnya sudah mendapatkan kompor gas gratis dari pemerintah dan seiring dengan itu minyak tanah sudah mulai langka.
Bagi rekan-rekan yang berminat, bisa nanti kerjasama dengan saya untuk tindak lanjutnya he..he.. Pasang telinga lebar-lebar, daerah mana saja yang sudah dibagi kompor gas gratis. Dari informasi yang saya dengar untuk wilayah Surabya, kebanyakan baru didata saja, kecuali Sidotopo.
Setelah itu, cari tempat yang bisa menampung tabung gas elpiji itu dan selanjutnya promosi ke masyarakat yang sudah mendapat kompor gas.
Modal ringan, untuk awalan hanya diminta untuk mengambil 50 tabung gas saja. Kalau kita boleh berandai-andai, misalnya kita punya 100 tabung gas dan setiap bulan konsumen mengambil 4 kali misalnya. Berarti penjualan selama sebulan sebanyak 400 kali refill, jadi keuntungan yang didapatkan bisa mencapai Rp. 400.000,-. Kecilkah ?........tergantung.....Lah kalo 1000 tabung, berapa....ayo coba hitung he..he..
Bisnis kebutuhan pokok, gak ada matinya kata orang, dan selalu berkembang seiring dengan banyaknya permintaan apalagi kalau ditunjang ”services excellent”. Konversi energi....ladang bisnis baru......
Nah, bagi anda yang masih bingung bisnis apa yang mau dijalani atau punya kelebihan dana, boleh hubungi saya untuk jalani bersama he..he...

Catatan Penting :

Lagi persiapan, sore ini mau bergabung dengan teman-teman di kawasan sejuk ”TRETES” untuk ikutan training, kemudian ahadnya menjadi trainer ”synergic building” untuk para pendidik di wilayah kabupaten Kediri.

Monday, December 10, 2007

Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin

Waktu pameran buku “How Book Are You” di gedung pemuda kemarin, aku langsung tertarik dengan buku kecil yang judulnya sangat dahsyat, “MENGUBAH TIDAK MUNGKIN MENJADI MUNGKIN : Pengalaman Berbisnis Dengan Sandaran Al Qur’an”, terbitan Al Bayan-Mizan.
Buku ini ternyata ditulis arek suroboyo, Pak Basuki Subiyanto, seorang wartawan yang mengakhiri karir terbaiknya di Kompas dan kemudian beralih menjadi pengusaha setelah perenungan yang panjang. Kini dia mengelola tiga perusahaan di Surabaya dan Sidoarjo.
Buku dengan gaya bahasa yang sangat sederhana itu terasa begitu inspiratif karena berisi pengalaman pribadi yang mengalir deras dari untaian kata-kata yang menerobos dan menembus batas “ketidakmungkinan” orang kebanyakan.
Secara garis besar ada tiga hal yang disampaikan oleh penulis dalam buku ini, yaitu :
Pertama, Success Story Di Kompas
Kedua, Pindah Kuadran
Ketiga, Impossibility Quotiont
Success Story Di Kompas
Penulis, yang sejak kuliah menerjuni dunia jurnalistik dan akhirnya selepas kuliah berkerja di bidang jurnalistik juga itu, karirnya diawali dengan bergabung di koran Memorandum yang saat itu masih sebagai koran politik.
Kemudian tahun 1983 pindah ke Kompas yang dimasukinya hampir tanpa tes, diminta bergabung dan langsung bekerja. Sampai pada akhirnya menjadi koresponden tetap untuk wilayah Jawa Timur.
Liputan pertama dan berat dirasakannya adalah ketika diminta meneliti masalah pungli (pungutan liar) di Kantor Bea Cukai Surabaya. Hampir sebulan peneliatian dilakukan untuk menelusuri liku-liku pungli yang tertutup itu dan ditulisnya secara bersambung di halaman pertama Kompas.
Presiden Soeharto saat itu sampai marah kepada para menterinya yang kemudian mengeluarkan inpres 4/1985 yang berisi memangkas semua wewenang Bea Cukai dalam pemeriksaan barang dan menjadikan administratur sebagai penguasa tunggal di pelabuhan. Inilah entry point yang menjadikan penulis dikenal oleh redaktur dan wartawan Kompas di Jakarta.
Setelah enam tahun di Kompas, kemudian pada tahun 1989 ikut membidani kelahiran Harian Surya yang masih masuk anak perusahaan Kompas itu dan mencapai cashflow positif pada 1996 dan 1997.
Pada tahun 1999, penulis diminta untuk membenahi manajemen di koran daerah yang masih anak perusahaan Kompas juga, Banjarmasain Post. Dengan strategi Al Qur’an tentunya penulis berhasil menaikkan tiras dari 10.500 menjadi 17.00 exemplar dalam waktu empat bulan. Setahun kemudian tirasnya naik menjadi 27.00 exemplar, bahkan saat kerusuhan Sampit, tirasnya mencapai angka funtastic 50.000 exemplar. Disinilah penulis juga belajar bisnis karena masuk dalam jajaran manajement selain redaksi.
Pindah Kuadrant
Setelah 17 tahun berada dalam pekerjaan yang cukup mapan di dunia bisnis surat kabar, beliau mempertaruhkannya dengan keluar dari pekerjaannya di Kompas-Gramedia dengan take home pay pada tahun 2002 sebesar Rp. 17 juta/bulan. Beliau merasa telah memasuki ruang “uji nyali” : seandainya salah langkah, maka harus rela mengorbankan penghasilannya selama ini.
Setelah tugasnya di Banjarmasin itulah, beliau berdiskusi dengan seorang ustadz untuk mencari tantangan yang lebih baik. Juga membaca bukunya Robert T. Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad, Cash Flow Quadrant, Guide To Investing, dll) yang seolah-olah memerintahkan beliau untuk berhenti menjadi karyawan kalau ingin hidup lebih baik.
Inti dari buku Robert T. Kiyosaki ini adalah mengingatkan orang untuk tidak berhenti atau puas menjadi pegawai pintar. Sebab, kata Kiyosaki “Engkau akan tetap menjadi pegawai yang hidupmu hanya mengandalkan gaji. Sebaliknya pintarlah memutar uang agar uang berkembang dan menjadi ‘pegawai’ yang mencarikan uang untukmu. Kalau uang sudah berkembang, ia setiap detik akan setor kepadamu. Jadi janganlah kamu sekolah lalu pintar karena ingin bekerja di perusahaan bagus, tapi pintarlah kamu berbisnis agar bisa membeli perusahaan bagus.”
Beliau memulai bisnisnya dengan membangun perusahaan di bidanng event organizer (EO) dan mengalami kerugian disini dan setelah dievaluasi kurang berkah katanya. Trus dilanjutkan dengan membeli perusahaan developer property yang hampir sekarat, hutangnya banyak dan banyak bom waktu yang menghadang di depan. Semua orang menganjurkan untuk tidak membelinya, tapi beliau dengan penuh keyakinan “sholat istikharah” mengambil bisnis ini. Dan melalui bisnis dibidang property inilah, yang akhirnya mencapai kesuksessan dan berlangsung sampai dengan saat ini.
Sukses Bisnis Dengan Al Qur’an
Yang menarik dari buku ini adalah, ikhtiar penulis untuk membuktikan bahwa al Qur’an adalah petunjuk bagi ummat manusia yang dapat memberikan solusi atas permasalahan hidup manusia, termasuk juga permasalahan bisnis.
Al Qur’an itu semacam apotek, jadi harus dibaca, difahami dan terus diamalkan dan harus sesuai dengan konteks permasalahan yang kita hadapi. Saat menghadapi masalah menyangkut anak misalnya, maka kita harus banyak-banyak membaca Surat Luqman. Saat ada permasalahan yang membelit dan memojokkan kita, kita bisa banyak membaca Surat Al Kahfi.
Makanya tidak heran di dalam buku ini terdapat semacam foot note yang berisi ayat-ayat Al Qur’an disetiap akhir pembahasan pada sub babnya.
”Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (Al Mu’min (40) : 60)

Catatan Penting :
Suatu saat saya ingin bertemu dengan Pak Basuki Subianto dan Ustadz yang sering disebutkan dalam buku ini. Semoga Allah meridhoi. Amiin...

Tuesday, December 04, 2007

Jadi Entrepreneur Adalah Pilihan : Reflkesi Seorang Mahasiswa

Soni (pegang HP) saat bersama saya (membelakangi)
menjadi instruktur dalam suatu pelatihan
Melanjutkan acara pelatihan pasca kampus di unair bulan kemarin, selanjutnya adalah sessinya Mas Soni Sulaksono yang bercerita liku-liku dunia entrepreneur. Dia mengawalinya dengan pernyataan : “suatu hari saya ditertawakan kawan saya karena pilihan saya untuk menjadi Kepala TK…..”
Masih berstatus sebagai mahasiswa, Soni memang sudah mendapatkan amanah untuk membesarkan yayasan At Tibyan yang dirintis oleh orang tuanya. Akhirnya dengan segala ikhtiar berdirilah TK Islam Terpadu dibawah kepemimpinannya. Berawal dari sinilah akhirnya beberapa usahanya berkembang pesat sampai akhirnya saat ini telah berdiri pula SD Islam Terpadu At Tibyan.
Sejak awal, Soni memang sering menjadi “terminal” bagi teman-teman kampusnya yang membutuhkan bantuan, dari mulai urusan pribadi sampai dengan urusan organisasi. Mulanya hanya iseng ingin meringankan “beban” teman-temannya dan akhirnya menjadi bisnis yang sampai sekarang sebagiannya masih ditekuni.
Tercatat sampai dengan saat ini, bisnisnya yang saya lihat masih berkembang adalah : bisnis pendidikan (TK Islam Terpadu & SD Islam Terpadu), persewaan alat-alat pesta, studio & video editing, persewaan perlengkapan pernikahan, catering & aqiqah.
Dan yang paling gress, dia baru saja membeli stand di pasar tradisional yang baru saja direnovasi seharga 350 juta-an. Dari standnya ini setiap hari dia mendapatkan omset sekitar 1.5 juta-an saat hari biasa, belum termasuk hari ramai pengunjung.
Suatu saat pernah Bapaknya yang seorang pengusaha itu bertanya kepadanya : “Son, kamu pengin naik haji ?” Tanpa menunggu jawaban dari Soni, Bapaknya kemudian mengajaknya ke pasar, dia berkata lagi sesampainya di pasar. “Son, kamu kenal dengan orang itu, dia sudah naik haji berkali-kali…..”
Tanpa bertanya lagi, Soni kemudian menghampiri seorang Ibu (tepatnya “Buk”, sebutan ibu dalam bahasa Madura) yang ternyata berjualan daging ayam. Dari sinilah, dia kemudian tersadar, bahwa Bapaknya ingin memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa salah satu jalan supaya kita bisa sukses, selain niat yang kuat adalah “ikhtiar” untuk mencapainya, dengan jalan berdagang alias bisnis.
Sisi lain Soni, saya ingat betul dia sudah berani menikah di usia yang masih sangat muda, 22 tahun tepatnya kalau gak salah dan masih kuliah, jarang lho ada anak yang menikah di usia itu dan masih kuliah lagi. Sementara calon pendampingnya adalah seorang sarjana ekonomi aliaswis gak mahasiswa lagi” gitu.
Ketika calon mertuanya bertanya : “kerja dimana, dan gajinya berapa”, dia sedikit ada manipulasi katanya, karena tidak semua orang tua serta merta menerima menantu yang belum jelas pekerjaannya he..he..Dengan entengnya, dia jawab : “saya bekerja di lembaga sosial (dia memang menjadi relawan dari lembaga social terkenal di Surabaya pada event-event tertentu), gajinya satu jutaan”. Nah, waktu dia menikah ini, dia masih aktif kuliah di STIKOM dan Kedokteran Hewan Unair, yang saat ini belum diselesaikannya itu.
Saat itu, untuk ukuran mahasiswa, dia sudah kelihatan mentereng karena tunggangannya “roda empat” dan baru dibeli dari jerih payahnya berbisnis, meskipun kredit katanya saat itu ketika saya tanya. Alasan dia kredit mobil, supaya saya terpacu membesarkan bisnis yang saya geluti mas, sergahnya.
Di akhir acara, dia memberikan tantangan kepada mahasiswa : “siapa yang siap membantu saya, dengan menyediakan daging dada ayam 50 kg setiap hari, juga cekernya dan rempelo atinya juga lho, sama besarnya….” Diam-diam, ternyata Soni juga pemasok daging ayam untuk beberapa rumah makan, gile bener kata saya…..
Lama gak ada yang merespon, akhirnya Soni mengulangi lagi peryatannya dengan menambahkan : “….maksudnya kalau harganya cocok besuk saya akan ambil dari anda, ingat 50 kg setiap hari, gimana….”
Sampai akhirnya ada seorang mahasiswi yang tunjuk jari dan maju kedepan, selanjutnya acara ditutup dan Soni memeperjelas lagi ordernya pada mahasiswai itu. Selanjutnya…….terserah anda……

Catatan Penting :
Tadi siang saya ditemui oleh dua orang hebat, Pak Dawam & Istrinya, owner sekaligus konsultan dari Quadrant Utama yang berkantor di Jakarta. Beliau akan mengadakan training bagi calon pensiunan PT. Unilever di Surabaya bulan ini. Trimakasih Pak telah bertamu ketempat saya dan mohon maaf tidak sempat menjamu panjenengan.

Saturday, December 01, 2007

SEC On The Move

Mas Danton, Mas Samsul, Mas Samurai, dll

Aku dan Mas Ganda (Kharisma Collection-Royal Plaza & Cito)

Mas Riano (kelihatan sampingnya he..he..)

Mbak, Kalo hitung yang bener ya...

Rabu malam kemarin, tepatnya tanggal 28 Nopember 2007, SEC (alias Surabaya Entrepreneur Club) punya “gawe” pertemuan rutin sekaligus pemilihan ketua periode 2008-2010. Sebelumnya telah terjaring tiga nama calon oleh tim kecil SEC periode sebelumnya, yaitu Samurai “Investor”, Agus “Vitabean” dan Riano “Reng Oneng”.
Acara diawali dengan pembukaan yang dipimpin oleh sang ketua panitia, Mas Danton “Jagoan Hosting”. Dia menyampaikan bahwa acara malam ini berbeda dari pertemuan sebelumnya, karena :
Pertama, akan dilakukan pemilihan ketua SEC.
Kedua, dilaksanakan di kampus SE (Sustainable Entrepreneur-Sekolah Pengusaha).
Ketiga, dihadiri para pendiri komunitas ini yang sudah sukses, yaitu Pak Panca, Pak Ismail Nakhu dan satu lagi aku lupa namanya, maafkan aku ya Pak….
Kemudian, sambutan dari para “sesepuh” entrepreneur yang diwakili oleh Pak Ismail Nakhu, ada beberapa point yang disampaikan, diantaranya :
  1. Komunitas entrepreneur ini harus dijaga, jangan sampai hanya sekedar ada tapi harus memberikan manfaat yang besar.
  2. Kejujuran adalah kunci utama dari seorang entrepreneur. Kata Pak Bisri Ilyas, seorang developer perumahan Rewwin dan GKB Gresik : ”Dalam berbisnis, insyaallah saya tidak pernah rugi. Saya rugi kalau ada orang yang mbujuki (tidak jujur) kepada saya”
Selanjutnya adalah pemaparan visi dari ketiga kandidat. Kandidat pertama yang mendapat giliran adalah Mas Agus “Vitabean”. Dia menyebut sebagai pedagang kaki lima yang sekarang “sukses” mengembangkan produk minuman bergizi “sari kedelai” dengan brand “Vitabean “ karena adanya kemitraan dengan pengusaha “besar”.
Giliran kedua, Mas Riano, seorang anak muda yang berhasil mengembangkan rumah makan dengan menu utama masakan khas madura dengan brand “Warung Reng Oneng : Eksotisme Masakan Madura”.
Terakhir, Mas Samurai, dengan gaya maskulin, berjambang lebat bak pejuang samurai betulan dari Jepang he..he..Dia adalah orang kedua SEC periode sebelumnya….yang katanya sering berseberangan “positif” dengan ketuanya dulu, Mas Priyo “Ranaka”.
Yang hadir pada saat itu ada sekitar 45-an entrepreneur dari berbagai bidang. Kemudian dilangsungkan pemilihan dan akhirnya yang terpilih adalah Mas Samurai. Acara ditutup dengan makan bareng pecel pincuk di daerah Pucang, wah aku gak bisa ikutan nih.habisnya malam banget…..
Selamat Mas Samurai………
Selamat SEC………..
Selamat “Sukses”………