Friday, December 28, 2007

Catatan Akhir Tahun : Jangan Menyerah

Anak kecil itu…………..
Seringkali saat maghrib menjelang, aku mendengar lengkingan suara anak kecil ”roti........roti...........roti.........” Setelah kulihat memang ada anak kecil lima tahunan yang melintas didepan rumahku dengan sepeda mininya membonceng keranjang yang berisi makanan yang sedang dijajakan, mengiringi didepannya adalah orang dewasa seperti ayahnya juga membonceng keranjang yang sama.
Pernah suatu hari di hujan yang cukup deraspun mereka tetap menjajakan makanannya berkeliling di kompleks perumahan yang kutempati. Seperti biasa sang anak kecil dengan begitu riang dan semangatnya meneriakkan suara khasnya “roti…..roti……”
Hari itu mereka bertiga ditambah adik sang anak kecil yang umurnya dua tahunan dibonceng ayahnya di depan. Disela-sela lengkingan suara anak kecil menjajakan makanannya, juga diiringi dengan gurauan dan tertawa ringan dari ketiganya seolah mencerminkan kegembiraan dan begitu akrabnya kombinasi ayah dan anak ini.
Kemarin saat aku menuju masjid dekat rumah untuk menunaikan sholat maghrib, seperti biasa melintas mereka didepanku dan anehnya mereka berdua saja tanpa ditemani ayahnya. Tepat diperempatan jalan depan masjid, mereka berhenti dan kembali sambil berteriak sang kakak bersenda gurau dengan adiknya dengan begitu riangnya.
Saya tidak tahu apa yang ada didalam dada kedua orang tua mereka, kalau itu dijadikan sebagai “edukasi” maka sungguh luar biasa kelak anak ini. Menjadi entrepreneur yang tangguh karena sejak dini sudah diajarkan sebuah tanggung jawab dan yang penting “mendobrak” kebiasaan anak kebanyakan seusianya.
Hari ini kita belajar kegigihan anak kecil ini yang sudah mengalahkan ego kekanakannya untuk terus berusaha dengan penuh keceriaan.
Anak perempuan itu………
Saat istriku melakukan wawancara calon penerima beasiswa program “gerakan peduli anak bangsa” yang dikelolanya beberapa waktu lalu, menjumpai anak perempuan yang begitu luar biasa. Dia merantau bersama kakaknya jauh dari orang tuanya ke Surabaya.
Disamping bekerja disalah satu rumah makan babi, kedua adik kakak ini sama-sama masih menjalankan studinya masing-masing dengan biaya sendiri. Sang kakak kuliah di salah satu perguruan tinggi dan sang adik masih sekolah di smp.
Anak perempuan ini berbeda, setiap waktu dia selalu menyampaikan keluahannya ke orang tuanya yang jauh darinya karena disamping terlalu banyak aturan dalam pekerjaannya juga yang sangat dia sesali adalah waktu sholat yang terkadang sulit ditunaikan. Pernah suatu waktu saat ada kesmpatan istirahat sementara dia sudah wudhu dan dia berjanji untuk sholat tiga menit saja, tetap tidak dibolehkan dan akhirnya terlewat.
Ya anak ini sekolah dari pagi sampai siang hari kemudian sore sampai dengan malam hari bekerja ditempat yang tadi saya sebutkan. Selama ini dia sebagai pencuci piring dengan gaji Rp. 200.000,- saja. Dia sebenarnya sudah lama kepingin sekali pindah dari tempat kerja ini tapi susah mencari kerja untuk saat ini, katanya.
Anak itu begitu bersyukur dan gembira ketika istriku memberitahukan bahwa ada counter HP milik temannya yang membutuhkan karyawan. Dan saat itu juga sorenya dia pamitan dari tempat kerja lamanya dan besoknya sudah mulai kerja ditempat barunya. Tentunya dengan tetap bisa leluasa beribadah dan gajinya lebih besar dari sebelumnya.
Disini kita belajar keteguhan hati dari seorang anak wanita, sepanjang ada niat dan ikhtiar dan tentu saja do’a pastilah ada jalan............
Sekali menyerah akan ketagihan
Dalam bukunya Kang Abik yang berjudul ”Ketika Cinta Bertasbih 2”, disampaikan bahwa sang tokoh Azzam tidak mau rasa putus asa menjamah dirinya bahkan berkenalan-pun tidak mau dengan yang namanya putus asa. Karena dia ingat pesan Vince Lombard :
”Once your learn to quit, it becomes a habit !”
“Sekali saja kamu belajar untuk berputus asa, maka akan menjadi kebiasaan !”
Seandainya kita pernah gagal akan suatu hal ataupun dalam suatu bisnis misalnya, ini bukanlah apa-apa karena Allah pasti menggantinya dengan kebahagiaan dan kesuksesan di waktu yang lain.
Rasulullah saw. bersabda, ”Seorang hamba akan selalu berada dalam kebaikan selama ia tidak terburu-buru. Dia ditanya, ’Apakah yang engkau maksud dengan terburu-buru wahai Rasulullah ?’ Dia menjawab, Yaitu seseorang yang berkata, 'Aku telah berdo’a kepada Tuhanku, namun sampai kini belum terjawab juga”
Tapi kalau kita gagal bersyukur maka jangan harap nikmat Allah yang berupa rahman dan rahim-Nya akan menghampiri kita. Maka jangan pernah berputus asa terhadap nikmat dan rahmat Allah swt. Karena rahmat-Nya sangat dekat bahkan dekat sekali..........
”...........Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim : 7)
Pada saat menemukan Lampu Pijar, Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan sebanyak 9.998 kali. Baru pada percobaannya yang ke 9.999 dia berhasil secara sukses menciptakan lampu pijar yang benar-benar menyala terang.
Pada saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya : Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab: “SAYA SUKSES, KARENA SAYA TELAH KEHABISAN APA YANG DISEBUT KEGAGALAN”.
Bahkan saat dia ditanya apakah tidak bosan dengan kegagalannya, Thomas Alfa Edison menjawab: “DENGAN KEGAGALAN TERSEBUT, SAYA MALAH MENGETAHUI RIBUAN CARA AGAR LAMPU TIDAK MENYALA”.
Semoga Allah berkenan atas ikhtiar kita dan memberikan curahan rahmat dan barokahnya untuk kejayaan kita semua. Amiin......

Post a Comment