Monday, December 10, 2007

Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin

Waktu pameran buku “How Book Are You” di gedung pemuda kemarin, aku langsung tertarik dengan buku kecil yang judulnya sangat dahsyat, “MENGUBAH TIDAK MUNGKIN MENJADI MUNGKIN : Pengalaman Berbisnis Dengan Sandaran Al Qur’an”, terbitan Al Bayan-Mizan.
Buku ini ternyata ditulis arek suroboyo, Pak Basuki Subiyanto, seorang wartawan yang mengakhiri karir terbaiknya di Kompas dan kemudian beralih menjadi pengusaha setelah perenungan yang panjang. Kini dia mengelola tiga perusahaan di Surabaya dan Sidoarjo.
Buku dengan gaya bahasa yang sangat sederhana itu terasa begitu inspiratif karena berisi pengalaman pribadi yang mengalir deras dari untaian kata-kata yang menerobos dan menembus batas “ketidakmungkinan” orang kebanyakan.
Secara garis besar ada tiga hal yang disampaikan oleh penulis dalam buku ini, yaitu :
Pertama, Success Story Di Kompas
Kedua, Pindah Kuadran
Ketiga, Impossibility Quotiont
Success Story Di Kompas
Penulis, yang sejak kuliah menerjuni dunia jurnalistik dan akhirnya selepas kuliah berkerja di bidang jurnalistik juga itu, karirnya diawali dengan bergabung di koran Memorandum yang saat itu masih sebagai koran politik.
Kemudian tahun 1983 pindah ke Kompas yang dimasukinya hampir tanpa tes, diminta bergabung dan langsung bekerja. Sampai pada akhirnya menjadi koresponden tetap untuk wilayah Jawa Timur.
Liputan pertama dan berat dirasakannya adalah ketika diminta meneliti masalah pungli (pungutan liar) di Kantor Bea Cukai Surabaya. Hampir sebulan peneliatian dilakukan untuk menelusuri liku-liku pungli yang tertutup itu dan ditulisnya secara bersambung di halaman pertama Kompas.
Presiden Soeharto saat itu sampai marah kepada para menterinya yang kemudian mengeluarkan inpres 4/1985 yang berisi memangkas semua wewenang Bea Cukai dalam pemeriksaan barang dan menjadikan administratur sebagai penguasa tunggal di pelabuhan. Inilah entry point yang menjadikan penulis dikenal oleh redaktur dan wartawan Kompas di Jakarta.
Setelah enam tahun di Kompas, kemudian pada tahun 1989 ikut membidani kelahiran Harian Surya yang masih masuk anak perusahaan Kompas itu dan mencapai cashflow positif pada 1996 dan 1997.
Pada tahun 1999, penulis diminta untuk membenahi manajemen di koran daerah yang masih anak perusahaan Kompas juga, Banjarmasain Post. Dengan strategi Al Qur’an tentunya penulis berhasil menaikkan tiras dari 10.500 menjadi 17.00 exemplar dalam waktu empat bulan. Setahun kemudian tirasnya naik menjadi 27.00 exemplar, bahkan saat kerusuhan Sampit, tirasnya mencapai angka funtastic 50.000 exemplar. Disinilah penulis juga belajar bisnis karena masuk dalam jajaran manajement selain redaksi.
Pindah Kuadrant
Setelah 17 tahun berada dalam pekerjaan yang cukup mapan di dunia bisnis surat kabar, beliau mempertaruhkannya dengan keluar dari pekerjaannya di Kompas-Gramedia dengan take home pay pada tahun 2002 sebesar Rp. 17 juta/bulan. Beliau merasa telah memasuki ruang “uji nyali” : seandainya salah langkah, maka harus rela mengorbankan penghasilannya selama ini.
Setelah tugasnya di Banjarmasin itulah, beliau berdiskusi dengan seorang ustadz untuk mencari tantangan yang lebih baik. Juga membaca bukunya Robert T. Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad, Cash Flow Quadrant, Guide To Investing, dll) yang seolah-olah memerintahkan beliau untuk berhenti menjadi karyawan kalau ingin hidup lebih baik.
Inti dari buku Robert T. Kiyosaki ini adalah mengingatkan orang untuk tidak berhenti atau puas menjadi pegawai pintar. Sebab, kata Kiyosaki “Engkau akan tetap menjadi pegawai yang hidupmu hanya mengandalkan gaji. Sebaliknya pintarlah memutar uang agar uang berkembang dan menjadi ‘pegawai’ yang mencarikan uang untukmu. Kalau uang sudah berkembang, ia setiap detik akan setor kepadamu. Jadi janganlah kamu sekolah lalu pintar karena ingin bekerja di perusahaan bagus, tapi pintarlah kamu berbisnis agar bisa membeli perusahaan bagus.”
Beliau memulai bisnisnya dengan membangun perusahaan di bidanng event organizer (EO) dan mengalami kerugian disini dan setelah dievaluasi kurang berkah katanya. Trus dilanjutkan dengan membeli perusahaan developer property yang hampir sekarat, hutangnya banyak dan banyak bom waktu yang menghadang di depan. Semua orang menganjurkan untuk tidak membelinya, tapi beliau dengan penuh keyakinan “sholat istikharah” mengambil bisnis ini. Dan melalui bisnis dibidang property inilah, yang akhirnya mencapai kesuksessan dan berlangsung sampai dengan saat ini.
Sukses Bisnis Dengan Al Qur’an
Yang menarik dari buku ini adalah, ikhtiar penulis untuk membuktikan bahwa al Qur’an adalah petunjuk bagi ummat manusia yang dapat memberikan solusi atas permasalahan hidup manusia, termasuk juga permasalahan bisnis.
Al Qur’an itu semacam apotek, jadi harus dibaca, difahami dan terus diamalkan dan harus sesuai dengan konteks permasalahan yang kita hadapi. Saat menghadapi masalah menyangkut anak misalnya, maka kita harus banyak-banyak membaca Surat Luqman. Saat ada permasalahan yang membelit dan memojokkan kita, kita bisa banyak membaca Surat Al Kahfi.
Makanya tidak heran di dalam buku ini terdapat semacam foot note yang berisi ayat-ayat Al Qur’an disetiap akhir pembahasan pada sub babnya.
”Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (Al Mu’min (40) : 60)

Catatan Penting :
Suatu saat saya ingin bertemu dengan Pak Basuki Subianto dan Ustadz yang sering disebutkan dalam buku ini. Semoga Allah meridhoi. Amiin...
Post a Comment