Tuesday, January 08, 2008

The Corporate Mystic

Saya tertarik untuk menulis kembali isi buku yang sangat inspiratif ini setelah membaca buku “Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin” yang menceritakan hasil diskusi antara Pak Basuki Subianto (penulis) dan salah seorang Ustadz yang menjadi langganan diskusinya. Disamping juga sebelumnya pernah sekilas mendengar dari salah seorang pengusaha property asal Surabaya, Pak Ismail Nachu.
Buku itu berjudul “The Corporate Mystic” yang ditulis oleh Gay Hendricks, Ph.D, konsultan bisnis dan professor Universitas Colorado, bersama dengan rekannya, Kate Ludeman, Ph.D, konsultan perusahaan-perusahaan multinasional.
Buku ini disusun berdasarkan seribu jam wawancara dengan ratusan pengusaha sukses di Amerika Serikat. Buku yang diterbitkan pada tahun 1996 ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Kaifa.
Pada resume di belakang sampul, di situ tertulis :
“Dalam era pasar global, anda akan menemukan orang-orang suci, mistikus atau sufi, di perusahaan-perusahaan atau organisasi-organisasi modern, bukan di vihara, kuil, gereja atau masjid. Kenyataannya hampir semua pengusaha dan eksekutif perusahaan-perusahaan sukses di AS yang diteliti penulis buku ini memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh para mistikus. Mereka sangat menjunjung etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. Mereka menghadirkan bukan hanya dompet, melainkan juga hati dan jiwa mereka dalam bekerja. Itulah sebabnya, Hendricks dan Ludeman menyebut mereka Mistikus Korporat. Para pemimpin, eksekutif dan pengusaha kaliber dunia tidak hanya sukses secara bisnis, melainkan juga meraih semuanya itu dengan santai tanpa mengorbankan keseimbangan dan keselarasan hidup. Jadilah para Mistikus Korporat ini orang-orang yang sejahtera tidak hanya secara finansial, tetapi juga secara spiritual.”
Inti dari buku ini adalah INTUISI !, Dari intuisi yang tajam, semua potensi di perusahaan bisa digerakkan untuk mencapai tujuannya secara seimbang.
“Intuisi itu digerakkan oleh hati. Oleh karena itu, eksekutif yang memimpin perusahaan dengan hati yang baik, jernih dan tenang, intuisinya tajam.”
Ada beberapa sebutan untuk intuisi ini. Ada yang menyebut ”INDRA KEENAM”. Ada pula yang menjuluki ”MENDEKATI SUARA TUHAN”, bahkan ada pula yang menyebut ”GETARAN JIWA”. Berbeda dengan otak yang fungsinya untuk berfikir, mengingat dan menganalisa, hati berfungsi untuk memahami. Setelah memahami, muncullah intuisi yang berupa getaran-getaran lembut.
Dari intuisi itu, seorang eksekutif bisa mengambil keputusan tepat dalam memilih orang untuk ikut mengorganisasi gerak perusahaan untuk meningkatkan integritas, kreatifitas, tanggung jawab, komitmen, komunikasi dan kejelasan visi. ”Kalau semua faktor itu berjalan baik, bisnis akan sukses”.
Namun, fungsi intuisi yang paling penting adalah untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Misalnya, menentukan waktu yang tepat untuk berinvestasi, menciptakan produk baru untuk produk yang sudah ada di pasaran, serta menentukan lokasi baru untuk proyek.
Dalam buku ini disebutkan, untuk memunculkan intuisi, eksekutif harus menenangkan diri dengan cara menutup pintu ruang kerja selama 20-60 menit untuk merenung dan menggambarkan dalam fikiran tentang persoalan yang sedang dihadapi. Dari pengakuan eksekutif itu, ada yang seolah-olah mendapat bisikan, ada yang merasa tiba-tiba muncul ide. Bisikan atau ide itu digabungkan dengan logika sebelum bertindak.
Kata seorang Ustadz, intuisi itu anugerah dari Allah swt, yang setiap orang diberi. Intuisi itu juga bisa dilatih agar lebih tajam. Makin tajam intuisi seseorang, akan semakin sukses bisnisnya karena sebagian besar keputusannya adalah benar. Namun, Allah memberi intuisi itu ibarat memberi air di gelas, ada yang isinya 200 mililiter, ada yang 500 mililiter, ada yang 1.000 mililiter alias 1 liter dan ada yang 2 liter.
Sebagian kecil manusia diberi Allah swt. intuisi yang besarnya satu drum. Siapa itu ? Misalnya, Albert Einstein, penemu teori relativitas. Kalau sekarang ya Bill Gates, bosnya Microsoft.
Allah swt memberi gelas-gelas yang berbeda agar kehidupan dunia ini berputar. Besar kecilnya gelas itu hanya Allah swt. yang tahu. Manusia hanya wajib melatih dan megasah terus menerus intuisinya. Sebenarnya, dalam Al Qur’an terdapat sejumlah cara agar seorang Muslim dapat meraih kekayaan, kesuksessan dan kebahagiaan. Kalau mau mengasah intuisi cobalah dengan sholat malam.
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”
(Q.S. Al Isra / 17 : 79)
Setelah sholat, dalam suasana hening, hati yang tenang dan fikiran yang jernih, intuisi akan bekerja maksimal. Sehingga persoalan apapun lebih gampang dicarikan jalan keluarnya. Sholat malam membuat fikiran cerdas.
Catatan Penting :
Ditulis beberapa hari setelah melihat bencana banjir di wilayah bojonegoro trus berlanjut dengan ber”diam” sejenak (dua malam) di suatu villa di kaki gunung welirang.
Post a Comment