Tuesday, March 04, 2008

Serial Manajemen Diri : MENGENAL DIRI SENDIRI

Pernakah Kita merenungkan siapa sebenarnya diri Kita ? Pernakah terfikir dalam diri Kita, dari mana Kita, hendak kemana tujuan Kita dan untuk apa Kita hidup di dunia ini ?
Orang yang ma’rifat akan bisa menemukan jawabannya seperti yang dikatakan Sayyidina Ali :
“Barangsiapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Rabnya (Tuhannya)”
Maka aneh bila seseorang tidak mengenal dirinya sendiri. Ibarat pasien, ia harus tahu lebih dahulu apa gejala penyakit yang menimpanya sebelum ia konsultasi kepada dokter dan meminta resep.
Jadi, kenalilah diri Kita sendiri. Jika kita mampu mengenali diri dengan sebenar-benarnya serta mengerti kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada kita, maka kita dapat menunaikan hak Allah yang menjadi kewajiban kita.
Dengan demikian Kita akan sampai pada ma’rifatullah. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
“Dan dalam diri kalian, tidakkah kalian melihat ?” (Adz-Dzariyat : 21)
Untuk mengenal kedudukan kita dihadapan Allah, maka Dia memfasilitasi kita dengan dua hal yakni ayat kauniyah berupa alam semesta ini beserta seluruh yang ada di dalamnya. Sedang yang kedua adalah ayat qauliyah berupa firman-firman-Nya yang diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul-Nya.
Di dalam Al Qur’an sebagai ayat qauliyah-Nya Allah menyebut manusia dengan 3 istilah :
Pertama, Al INSAN, yakni jati diri manusia sebagaimana dipaparkan dalam surat Al Hujurat.
Kedua, An-NAAS adalah fungsionalisasi manusia untuk melakukan misi tauhidullah, pengibadahan secara total kepada Allah.
Ketiga, Al BASYARIYAH yakni wujud keberadaan penciptaan manusia dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam yang dibentuk, kemudian Allah menyempurnakan dengan meniupkan ruh ke dalamnya. (QS Al Hijr: 34-42)
Sedangkan komposisi manusia terdiri dari unsur ruh dan unsur tanah (atturab). Komposisi tanah yang menyebabkan manusia bisa tergelincir pada kehinaan. Sedangkan komposisi ruhani akan mengantarkannya pada derajat kemuliaan, yakni al mala-ul a’la.
“Dan telah Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku.” (Al Hijr: 29)
Secara fungsional, manusia mendapat tiga tugas dan amanah yaitu :
Pertama, Sebagai AR-RI”AYAH, yakni pengelola bumi untuk kemaslahatan seluruh alam.
Kedua, Sebagai KHALIFAH, yakni memakmurkan bumi, dimana Allah telah menundukkan segala sesuatu di bumi untuk manusia. (Luqman : 20 dan Al Baqarah: 30)
Ketiga, Sebagai IMARAH, yakni memimpin seluruh makhluk Allah di bumi. (QS. Hud: 61)
Semua itu dilaksanakan semata-mata agar manusia hanya menghambakan dirinya dan beribadah kepada Allah. (Al Baqarah: 21; Adz-Dzariyat: 56). Untuk mengemban tugasnya tersebut manusia diberi kemampuan untuk memilih (kafa’atul ikhtiyar), yakni diberi dua jalan. Yakni jalan taqwa yang mengantarkannya kepada sifat amanah, serta jalan fujur (fasik) yang menjerumuskannya pada sifat khianat.
“Dan Kami telah menunjukkan dua jalan kepadanya.” (Al Balad: 10)
“Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.” (Asy-Syams: 7-8)
Kebahagiaan bagi orang yang selalu menyucikan jiwanya dengan tazkiyatun nafs.
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.” (Asy-Syams: 9)
Kecelakaanlah bagi orang yang mengotori jiwanya.
“Dan sungguh celakalah bagi orang yang mengotori jiwanya.” (Asy-Syams: 10)
Meskipun jiwa manusia dinilai sangat tinggi oleh Al Qur’an, memiliki ilmu dan keutamaan, bercahaya dan cemerlang, ia juga mempunyai kecenderungan kepada keburukan. Yaitu : Zhalim dan bodoh. (Al Ahzab: 72), Sangat ingkar dan tidak berterima kasih. (Al Aadiyat: 6) dan Berkeluh kesah lagi kikir. (Al Ma’arij: 19-23)
Itulah fitrah manusia yang sesungguhnya, untuk mengujinya siapa diantara manusia yang paling baik amalnya. (Al Mulk : 2). Manusia tetaplah manusia, yang dikarunia akal, hati, nafsu dan perasaan. Ia bukanlah malaikat, makhluk yang taat namun pasif, karena imannya tetap tidak bertambah maupun berkurang. Ia bukan pula syetan yang durhaka yang selalu mencari pendukung untuk menemaninya di hari kiamat kelak.
Manusia sebagai ahsanu taqwim –sebaik-baik ciptaan Allah- bila lebih mulia dari malaikat dengan keaktifannya memberdayakan potensi taqwa. Namun ia juga bila lebih sesat dari syetan apabila jalan fujur yang ditempuhnya.
Untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna itulah dibutuhkan adanya tazkiyatun nafs untuk membangun sikap dan sifat mulia seperti dengan qiyamullail, tilawah Al Qur’an, dzikrullah dan membangun kesabaran. (Qur’an Surat Al Muzammil)
Yang kedua adalah mujahadatun nafs untuk mengikis habis sifat-sifat tercela. Allah befirman,
“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan-Ku, sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69)

Post a Comment