Friday, May 30, 2008

Belajar dari Tikus dan Kurcaci

Dahulu kala hiduplah dua sahabat yaitu dua kurcaci dan dua tikus. Setiap hari merekaberkeliaran dalam labirin mencari keju yang lezat. Para tikus menggunakan metode “trial and error”, masuk ke satu lorong dan segera berpindah ke tempat lain sampai mereka menemukan keju. Berbeda dengan kedua kurcaci yang menggunakan kemampuan berpikir mereka untuk menemukan keju yang dimaksud.
Suatu hari terjadi hal yang mengejutkan. Kejunya ternyata sudah habis. Kedua tikus sadar bahwa situasi sudah berubah. Karena itu tanpa membuang waktu, mereka memutuskan untuk “berubah juga”. Segera mereka mengangkat hidung, mengendus dan berlari ke “labirin yang lain” untuk menemukan “keju yang baru”.
Tidak demikian halnya dengan kedua kurcaci mereka tak siap menghadapi kenyatan ini. Alih-alih mengambil tindakan, mereka beteriak-teriak, berkacak pinggang dan mengomel berkepanjangan. “Ini tidak adil. Siapa yang memindahkan keju kita?” Temannya menjawab, “Ini kecerobohanmu, kalau saja kamu memperhatikan bahwa persediaan keju kita semakin menipis, hal ini tak mungkin terjadi!”
Mereka pun menganalisa. “Pasti ada orang jahat yang hendak mempermainkan kita. Kita harus mencari tahu.” Berhari-hari mereka mendiskusikan masalah ini, tapi kejunya tak kunjung tiba, kini mereka benar-benar merasa lemas dan tak bertenaga.
Cerita menarik dari Spencer dan Johnson tersebut, kata Arvan Pradiansyah, tepat menggambarkan kondisi bangsa kita. Kelakuan kita mirip kurcaci yang selalu dan saling menyalahkan.
Dalam menghadapi masalah, manusia dapat dikategorikan dalam tipe reaktif dan proaktif. Orang rekatif memang pandai mencari-cari alasan. Bagi mereka pertanyaan yang paling penting adalah “Mengapa” yaitu “Mengapa hal ini terjadi”, “Seandainya saja…”
Sementara bagi orang proaktif, pertanyaan terpenting adalah “Apa” yaitu “Apa yang dapat saya lakukan?” Orang proaktif itu sadar bahwa segalanya sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.
Karena itu membahas dan menyesalinya tidaklah menyelesaikan masalah. Menanyakan “mengapa” malah akan memberikan efek bumerang yaitu memperkecil kemampuan kita menyelesaikan masalah. Ini karena pikiran kita akan terjejali penyesalan yang tak berujung yang akan merayap energi kita sendiri.
Efektifkan waktu dan enegi untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Simaklah nasihat Aa Gym dalam “Lima Kiat Menghadapi Persoalan Hidup.”
Misalnya, kata Aa’ Gym kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur.
Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Ubah paradigma hidup Kita dan menyalahkan keadaan “mengapa hal ini terjadi?” Berpikirlah untuk berbuat “apa yang bisa kita lakukan sekarang”. Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu merubah yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar Ra’du: 11)
“Dan katakanlah “bekerjalah maka Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu.” (QS At Taubah: 105)
Jadilah orang yang proaktif. Yaitu orang terus berpikir untuk berbuat. “Apa yang bisa saya lakukan?”

Post a Comment