Monday, May 12, 2008

Life Is Beautiful

Pertama kali saya mendengar judul buku ini beberapa tahun lalu dari Pak Amin, Ak. MM. (yah begitu kami biasanya memanggil, seorang auditor BPKP yang baru saja pindah tugas ke Kendari) saat beliau memimpin rapat pada suatu kegiatan yang saya ikuti. ”Life Is Beautiful : sebuah jendela untuk melihat dunia” adalah judul buku yang ditulis Bang Arvan Pradiansyah, yang tulisan renyahnya bisa kita ikuti salah satunya di majalah SWA.
Kali ini saya akan mengulasnya kembali sebagiannya saja sebagai sebuah pembelajaran bagi kita semua di tengah kerumitan hidup yang dialami sebagian besar bagian stake holder dari negeri ini. Hidup ini terlalu indah untuk diisi dengan perbuatan yang sia-sia, tidak bermanfaat, ada pendzaliman didalamnya dan bahkan permusuhan yang tiada henti-hentinya.
Suatu kondisi, peristiwa atau hal yang sama bisa mendapatkan respon yang berbeda dari masing-masing orang. Respon mana yang kita pilih akan menentukan apakah kita menjadi orang yang bahagia ataukah tidak. Dengan kata lain, kebahagiaan sebenarnya lebih ditentukan oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain atau sesuatu yang berada diluar diri kita.
Kita mungkin tidak bisa mengontrol hal-hal yang terjadi di luar kehendak kita, tapi kita bisa memilih bagaimana cara menyikapinya yang paling arif. Hal ini bisa diartikan bahwa “hidup yang indah adalah sebuah gaya hidup”.
Setiap orang adalah pemimpin di muka bumi, paling tidak pemimpin bagi dirinya sendiri. Dan setiap orang akan dihadapkan pada pilihan-pilihan setiap harinya dalam mengarungi kehidupan ini. Apakah akan menyia-nyiakan waktu, berbuat baik atau jahat, banyak memberi atau banyak menerima dan sebagianya. ”Akan menjadi apakah kita, akan banyak ditentukan oleh pilihan kita sendiri”.
Bila kita ingin bahagia, kita perlu merespon setiap kondisi dan peristiwa dengan fikiran dan hati yang bersih. Kesabaran, toleransi, menyayangi sesama dan keikhlasan merupakan sebagian modal untuk menjadi orang yang bahagia. Kepasrahan kepada Allah SWT juga membuat kita menjadi bahagia. Dan perlu dicatat, kepasrahan bukan berarti manusia yang tidak mau berusaha. ”Kepasrahan berarti berupaya semaksimal mungkin, tapi menyerahkan hasilnya kepada kehendak Allah SWT”.
”Manusia hanya berhak dalam prosesnya dan Allah-lah yang menentukan hasilnya”. Dan juga ada hukum alam yang pasti terjadi : bila kita melakukan hal baik, maka hal baik akan kembali pada kita. Sebaliknya bila kita melakukan hal jahat, maka kita akan menuai hasil jelek dari perbuatan kita.
Dalam melakukan perbuatan baik, keikhlasan adalah hal yang sangat penting, ”Berikan dan Lupakan”. Kalau kita melakukan hal baik kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang berbuat baik pada diri sendiri. Hal yang sama juga ditulis Dalai Lama dalam bukunya The Art Of Happiness, yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap perbuatan kita.
Bila ikhlas sudah menjadi jiwa kita, maka hidup akan benar-benar indah. Keindahan hidup bukanlah dari apa yang kita miliki, melainkan tergantung pada cara kita melihat. Kalau kita melihat hidup dari jendela keindahan, hidup akan terlihat indah. Sebaliknya kalau jendela itu kotor dan bahkan rusak, hidup pun juga akan terlihat kotor dan bahkan rusak.
Agar hidup terasa indah dan penuh anugerah, kita harus senantiasa melihat segala sesuatu dengan fikiran positif dan hati yang bersih. Kegagalan, ketidaknyamanan dan penderitaan bisa menjadi cambuk untuk terus maju bagi orang yang bisa berfikiran positif, sebaliknya bisa stres dan bahkan berbuah musibah bagi orang yang berfikiran negatif.
Pada zaman sekarang, dimana banyak orang menganggap uang sebagai benda yang sangat penting maka diperlukan paradigma yang benar dalam melihat kehidupan. Jadilah ”Human Being” dan bukan ”Human Having”, dan janganlah mengandalkan uang, jabatan dan kekuasaan sebagai sumber kebahagiaan, sebaliknya ubahlah jiwa kita sendiri sebagai sumber kebahagiaan. Akhirnya kita bisa benar-benar merasakan La Vita est Bella, Hidup itu Indah !
Catatan Penting :
Berusaha untuk tetap ”tersenyum” ditengah ujian kesekian kalinya yang insyaallah akan segera datang (jika pemimpin negeri ini menaikkan harga BBM). Pemimpin negeri ini diuji untuk bisa mengambil keputusan yang berpihak kepada hati nurani atau logika akademik, para pengusaha diuji untuk me”main”kan harga bahkan me”nimbun” dagangannya atau tetap bersabar dengan mengharap barakah Allah, dan rakyat kebanyakan barangkali sudah kebal dengan berbagai ujian yang selama ini terjadi......
Post a Comment