Friday, July 11, 2008

Tukang Tahu : Ber-FIKIR & ber-JIWA BESAR

“Orang bijaksana akan menjadi Majikan dari pikirannya. Orang bodoh akan menjadi Budaknya” (David J. Schwartz)
Beberapa hari yang lalu seperti biasanya saya membeli tahu sumedang langganan. Berbeda dengan sebelumnya, saya menemukan sang Bapak yang kebetulan berada disamping istrinya yang sedang melayani saya, sedang asyik membaca buku dengan sampul warna pink. Setelah saya amati, ternyata yang dibaca adalah buku karangan David J. Schwartz, Berfikir dan Berjiwa Besar (The Magic Of Thinking Big).
Saya sempat bergumam, seandainya seluruh komponen bangsa ini termasuk para entrepreneur mau “belajar” insyaallah kita akan menjadi bangsa besar dan berpotensi memimpin dunia. Kita menjadi malu untuk melakukan korupsi juga malu menggadaikan asset bangsa yang berlimpah ini untuk kepentingan pribadi.
Sang Bapak dan istrinya telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Di tengah kesibukan menjalani rutinitas menjadi entrepreneur (menjual tahu sumedang dan minuman ringan), Sang Bapak terus belajar untuk berfikir dan berjiwa besar dalam menjalani fase kehidupannya.
Buku ini adalah bacaan lama saya dan merupakan salah satu buku yang berpengaruh bagi diri saya Karena itu, saya akan coba menyampaikan beberapa bagian dari buku yang dahsyat ini. Semoga kita mampu mengambil hikmah disetiap kesempatan yang kita lalui.
Percaya berhasil, maka Anda pun benar-benar berhasil
Otak Kita adalah “Pabrik Fikiran”. Pabrik yang juga sibuk menghasilkan fikiran yang tak terhitung setiap jamnya. Produksi didalam pabrik fikiran kita berada dibawah pengawasan dua mandor, salah satunya kita sebut saja Tuan Kemenangan, dan yang satu lagi Tuan Kekalahan.
Tuan kemenangan bertanggung jawab untuk menghasilkan fikiran yang positif. Ia berspesialisasi menghasilkan alasan mengapa Kita dapat, mengapa Kita cakap dan mengapa Kita akan berhasil. Mandor yang satunya lagi, Tua Kekalahan, menghasilkan fikiran negatif yang menurunkan nilai diri. Ia adalah ahli dalam mengembangkan alasan mengapa Kita tidak dapat, mengapa Kita lemah dan mengapa Kita tidak memadai. Spesialisasinya adalah rangkaian fikiran ”mengapa-Kita-akan-gagal”.
Baik Tuan Kemenangan maupun Tuan Kekalahan sangat patuh kepada Kita. Mereka cepat menjalankan perintah. Yang perlu Kita lakukan untuk memberi isyarat kepada kedua mandor hanyalah kesiapan mental sedikit saja. Jika isyaratnya positif, Tuan Kemenangan akan melangkah maju dan segera bekerja. Begitu pula, isyarat negatif membuat Tuan Kekalahan melangkah maju.
Berfikir dan bermimpi secara kreatif
Berfikir kreatif berarti menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan apa saja. Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan dan menguatkan kemampuan kita dalam berfikir kreatif, yaitu :
  1. Percaya bahwa sesuatu dapat dilakukan. Jika Kita percaya sesuatu dapat dilakukan, fikiran Kita akan mencarai cara untuk melakukannya.
  2. Jangan biarkan tradisi melumpuhkan fikiran Kita. Bersikaplah menerima gagasan baru, lakukan eksperimen, coba pendekatan baru dan bersikaplah progresif dalam semua yang Kita kerjakan.
  3. Bertanyalah kepada diri sendiri setiap hari, ”Bagaimana Saya dapat bekerja dengan lebih baik ?”
  4. ”Bagaimana Saya dapat bekerja dengan lebih banyak ?”.Kapasitas adalah keadaan fikiran.
  5. Praktekkan bertanya dan mendengarkan. Jika ini Kita lakukan maka Kita akan mendapatkan bahan mentah untuk mencapai keputusan yang tepat. Ingat : ”Orang besar memonopoli kegiatan mendengarkan, Orang kecil memonopoli berbicara”.
  6. Bentangkan fikiran Kita. Dapatkan stimulasi melalui bergaul dengan orang yang dapat membantu Kita memikirkan gagasan baru. Berbaurlah dengan orang dari minat pekerjaan dan sosial yang berbeda.
Anda adalah apa yang anda fikirkan mengenai diri anda
”Cara Anda berfikir menentukan bagaimana Anda bertindak. Cara Anda bertindak pada gilirannya menentukan bagaimana orang lain bereaksi terhadap Anda”
Ada sebuah kisah yang sering disampaikan mengenai sikap tiga orang tukang batu terhadap pekerjaan. Ketika ditanya, “Apa yang sedang Anda kerjakan ?”. Tukang batu pertama menjawab, “Menyusun bata”. Yang kedua menjawab, “Menghasilkan enam ratus rupiah perjam”. Dan yang ketiga berkata, “Saya ? Saya sedang membangun katedral terbesar di dunia”.
Akhir dari cerita ini, hampir bisa dipastikan tukang batu pertama akan tetap menjadi tukang batu. Tetapi tukang batu ketiga, dia bisa saja menjadi mandor, kontraktor besar, arsitek ternama dll. Ia terus bergerak ke atas, karena berfikir memang membuatnya begitu. Ia mendengarkan saluran fikiran yang menunjukkan cara untuk mengembangkan diri di dalam pekerjaannya.
Mengubah kekalahan menjadi kemenangan
Kita dapat mengubah kemunduran menjadi kemenangan. Cari pelajarannya, terapkan, kemudian ingat kembali kekalahan itu dan tersenyumlah. Kekalahan hanyalah keadaan fikiran, tidak lebih.
Yang penting adalah, katakan pada diri Kita, “Pasti ada jalan”. Semua fikiran bersifat magnetis. Kalau kita berfikir positif, maka fikiran positif akan dengan gencar menyerbu masuk kedalam benak Kita untuk membantu memecahkan masalah yang kita hadapi.
Ada sisi baik dalam setiap situasi, dan ketika kita menemukan sisi baik tersebut, Kita otomatis menolak kekalahan dan rasa frustasi.

Post a Comment