Monday, June 08, 2009

CAPRES = Calo(n) Presiden

Karena ingin menutupi rasa penasaran untuk melihat Film CAPRES, akhirnya kesampaian juga. Hitung-hitung sebagai sumbangsih untuk memikirkan arah bangsa ini ke depan, wow koq terlalu tinggi yah bahasanya.

Kalau dilihat promo dan traillernya sangat bagus tapi waktu melihat filmnya koq kelihatan kurang bagus yah. Filmnya memang bergenre komedi meskipun nggak komedi amat sih. Alur filmnya itu lho yang membuat bingung karena ceritanya sering melompat-lompat seperti katak he..he…Kalau mau lihat simopsisnya yang bagus nih saya cantumin yah, saya ambil dari sini.

CAPRES, Film Parodi Menyambut Pilpres

Momen pesta demokrasi tidak dilewatkan oleh beberapa sineas untuk merilis karyanya. Setelah 'Wakil Rakyat', kini giliran 'Capres' yang mencoba untuk mengocok perut penontonnya lewat guyonan-guyonan cerdas.

Kisah 'Capres' bermula ketika Hartono (Dwi Sasono) seorang office boy bergelar sarjana ekonomi tiba-tiba ditunjuk menjadi Ketua Umum Parpol yang korup bernama Partai ASU (Anggaran Semuanya Untukmu). Hartono dipilih karena kejujuran dan keluguannya.

Para pengurus Parpol itu berharap agar Hartono yang lugu itu bisa disetir dalam menjalankan kebijakan partai. Hal ini ditujukan agar dana yang terkumpul dari para pejabat dan pengusaha sebagai modal kampanye dapat dipertahankan meski Ketua Umum mereka yang asli sedang diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi.

Awalnya Hartono yang lugu tidak bersedia untuk menjadi Ketua Umum Parpol tersebut. Namun berkat dukungan yang diberikan oleh sang pacar Ningsih (Happy Salma), Hartono pun bersedia untuk meneruskan perjuangan ayahnya sebagai pemimpin yang jujur dan melayani rakyat dari hati.

Berbagai adegan menggelitik pun tercipta ketika hartono yang lugu diubah penampilannya sehingga terlihat lebih bonafit. Tak hanya itu, Hartono juga mendapuk Effendi Ghazali dan Ucup Kelik sebagai penasihat politiknya.

Masalah muncul saat Hartono yang awalnya bisa disetir, mulai sadar dan berusaha melawan. Bahkan godaan Catherine Wilson yang berperan sebagai sekertaris 'luar dalam' pun ia tolak mentah-mentah.

Mampukah Hartono bertahan melawan friksi dan trik politik yang penuh muslihat? Jawabannya hanya Anda akan dapatkan di 'Capres' ini akan tayang di bioskop mulai 4 Juni mendatang.

Film yang dibintangi oleh Dwi Sasono, Happy Salma, Catherine Wilson, Sujiwo Tejo, Butet Kertaradjasa, Kelik Pelipur Lara (Ucup Kelik), Denny Chandra, dan Remy Silado ini menceritakan tentang carut marut dan kerasnya dunia politik. Film ini dikolaborasi dengan ide talkshow komedi 'Republik Mimpi' yang populer di salah satu televisi swasta.

Untuk menguatkan tema politik, 'Capres' juga melengkapinya dengan penampilan-penampilan cameo politikus. Salah satunya Gus Dur.

Melanjutkan pembahasan saya di awal tulisan ini, film ini kayaknya lebih kepada kampanya calon presiden, terutama yang kemarin baru saja nonton bareng film yang sama he..he.

Terakhir, semoga bangsa ini berhasil memilih pemimpinnya dengan baik melalui PEMILIHAN PRESIDEN 2009. Amiin.

Wassalam,



Monday, June 01, 2009

KEPEMIMPINAN YANG MENYESALI

Keberadaan pemimpin jelas amat dibutuhkan bagi setiap orang dalam berbagai kelompok dan bidang. Dalam sepakbola ada kapten kesebelasan, di perusahaan ada direktur bahkan presiden direktur, dalam shalat berjamaah mesti ada yang namanya imam dan dalam suatu negara ada presiden atau perdana menteri atau ada juga yang menyebutnya dengan raja.

Dibutuhkannya pemimpin menunjukkan betapa strategis jabatan kepemimpinan itu. Jabatan kepemimpinan yang diemban seseorang bisa membawa kebaikan tapi juga bisa membawa keburukan. Tidak hanya bagi orang yang dipimpinnya tapi juga bagi dirinya sendiri, bahkan tidak hanya keburukan di dunia ini saja tapi juga bisa sampai ke akhirat nanti.

FAKTOR YANG MENYEBABKAN BURUKNYA KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan yang akan membawa seseorang pada keburukan disebabkan banyak faktor, diantaranya :

Pertama : KEKEJAMAN DALAM MEMIMPIN

Kepemimpinan yang dijalankan dengan berlaku kejam atau zalim kepada orang yang dipimpinnya merupakan sesuatu yang membawa malapetaka bagi sang pemimpin dan orang yang dipimpinnya. Tidak hanya kejam dari tindakan fisik tapi juga kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkannya.

Sehingga rakyat tidak berdaya dihadapan sang pemimpin meskipun pemimpin itu melakukan kesalahan. Karenanya pemimpin yang berlaku kejam kepada rakyat yang dipimpinnya merupakan sejelek-jelek pemimpin, Rasulullah saw bersabda :

"Sesungguhnya sejelek-jelek pemimpin adalah pemimpin yang kejam. Karena itu berhati-hatilah agar kamu tidak termasuk golongan itu" (HR. Muslim dari Ubaidilah bin Ziad)

Kedua : MEMBODOHI RAKYAT

Pemimpin yang baik adalah yang berusaha mencerdaskan rakyatnya, karenanya ia memajukan pendidikan, menjelaskan secara terbuka segala kebijakan yang diambil dan masyarakatpun didorong untuk mempelajari dan mengkritisi segala kebijakan itu.

Gagasan cerdas dari rakyat tidak hanya didengar tapi juga diterapkan seperti yang dilakukan Rasulullah saw yang melaksanakan pendapat Salman Al Farisi yang mengusulkan penggalian parit dalam siasat perang yang kemudian perang itu disebut dengan perang khandak. Begitu juga dengan Khalifah Umar bin Khattab yang mencabut kembali kebijakan dan peraturannya yang diakui salah setelah diktritik oleh seorang wanita tua tentang mahar yang tidak boleh mahal.

Manakala pemimpin membodohi rakyatnya dan ia suka bila rakyatnya tidak pintar, maka jangan harap bisa masuk ke dalam surga. Karena pemimpin semacam itu termasuk orang yang diharamkan masuk surga, Rasulullah saw bersabda :

"Tiada seorang hambapun yang oleh Allah diserahi memimpin rakyat, mati pada hari ia mati dalam keadaan membodohi rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga atasnya" (Bukhari dan Muslim)

Ketiga : BERDUSTA

Dalam rangka membodohi rakyat dan menyimpan agenda-agenda busuk, tidak sedikit pemimpin yang melakukan penipuan atau berlaku dusta, bahkan tidak segan-segan melakukan kezaliman terhadap orang yang tidak sependapat dengannya atau sekadar mengkritisi. Terhadap pemimpin yang demikian kita tidak dibolehkan untuk membantu kezaliman yang dilakukannya dan membenarkan kedustaan atau kebohongan yang disampaikannya.

Bila kita tidak bersikap demikian terhadap sang pemimpin, maka ancamannya tidak mendapatkan pengakuan sebagai umat Nabi Muhammad saw. Bila orang yang membantu pemimpin yang zalim dan membenarkan kebohongannya saja sudah tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw, apalagi pemimpin yang demikian, Rasulullah saw bersabda :

"Kelak akan muncul pemimpin–pemimpin yang berselimutkan api neraka ; mereka berdusta dan berbuat zalim. Barangsiapa membantu mereka terhadap kezalimannya dan membenarkan kedustaan mereka, maka dia bukan termasuk golonganku dan akupun bukan golongannya, dan dia tidak akan minum dari telaganya" (HR. Ahmad dari Said Al Khudri)

MENYIKAPI JABATAN KEPEMIMPINAN

Karena kepemimpinan merupakan amanah dan ada konsekuensi dunia akhirat yang akan dihadapankan kepada sang pemimpin, maka paling tidak ada dua sikap kita terhadap jabatan kepemimpinan yang harus kita tunjukkan.

Pertama, TIDAK AMBISIUS UNTUK MENDAPATKAN JABATAN KEPEMIMPINAN

Karena itu seorang muslim jangan sampai meminta jabatan kepemimpinan, apalago bila berbagai upaya termasuk upaya yang tidak baik dilakukan untuk mendapatkan jabatan itu seperti menyogok, menjelek-jelekkan orang lain dan sebagainya. Meminta jabatan seperti itu akan membuat beban kepemimpinan semakin berat dan orang yang membantupun motivasinya untuk mendapatkan keuntungan duniawi.

Namun bila jabatan itu memang diberikan karena kapasitas yang dimiliki, maka akan banyak orang yang membantu melaksanakan tugas kepemimpinan dengan sebaik-baiknya, Rasulullah saw bersabda :

"Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak" (HR. Muslim dari Abdurrahman bin Samurah ra)

Kedua, MEMPEROLEH JABATAN DENGAN CARA YANG BAIK DAN BENAR

Sehingga tidak menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Dan sesudah memperoleh jabatan, digunakan jabatan dengan baik dan benar untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran. Begitulah yang telah ditunjukkan oleh para khalifah yang cemerlang seperti Abu Bakar Ash Shiddik, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz dan sebagainya.

Penggunaan jabatan untuk kebaikan dan kebenaran membuat seorang pejabat selalu dikenang dalam kebaikan dan dijadikan sebagai rujukan untuk menjadi pemimpin yang baik. Namun bila tidak, maka jabatan membuat seseorang menjadi hina dihadapan manusia dan menjadi penyesalan yang amat dalam. Bahkan kehinaan dan penyesalan itu sudah dirasakan sejak masih di dunia ini, apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti, Rasulullah saw bersabda :

"Abu Dzar ra berkata : Saya bertanya, Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan?. Maka Rasulullah menepukan tangannya pada pundakku, lalu beliau bersabda : Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya" (HR. Muslim)

Oleh karena itu, dalam suasana masyarakat dan bangsa kita yang baru saja menyelenggarakan PEMILU LEGISLATIF dan sebentar lagi akan punya gawe besar PEMILIHAN PRESIDEN, menjadi amat penting untuk merenungkan kembali apa sebenarnya hakikat kepemimpinan, baik dalam jabatan eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Semua itu dimaksudkan agar kita tidak salah memilih pemimpin dan orang yang terpilih sebagai pemimpinpun mampu menggunakan jabatannya untuk melayani masyarakat dan menegakkan kebaikan serta kebenaran. Catatan sejarah kita belum cukup banyak tentang pemimpin yang cemerlang dan yang semakin banyak justeru pemimpin yang menjadi hina dan merasakan penyesalan bagi diri dan keluarganya apalagi bagi masyarakat dan bangsa.

Teriring do'a semoga PILPRES 2009 berlangsung aman dan fair sehingga terpilih pemimpin yang amanah dan selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. Amiin.