Wednesday, September 09, 2009

THEOPPORTUNITYISNOWHERE

Tulisan di atas baru saja saya temukan diantara banyak file yang ada. Saya baru ingat kalau tulisan yang seperti itu pernah saya sampaikan saat saya mau menyampaikan materi, sekedar ice breaking saja sebenarnya. Saya tanya kepada seluruh audiens yang hadir saat itu, kira-kira tulisan seperti ini dibaca apa ya?.

“THEOPPORTUNITYISNOWHERE”

Dari sekian pertemuan, sebagain besar ternyata banyak yang menjawab pilihan pertama “THE OPPORTUNITY IS NOWHERE”, sedangkan yang membaca dengan pilihan kedua “THE OPPORTUNITY IS NOW HERE” itu hanya sebagian kecil saja.

Saya tidak tahu, ice breaking seperti ini dulu saya temukan dari mana yah, tapi ada juga sih manfaatnya meskipun kalau menurut orang jawa disebutnya sebagai “otak atik gathuk” he..he..betul nggak?. Kita ambil saja aspek positifnya sebagai bahan pelajaran bagi kita siapa tahu ada manfaatnya juga.

Pertama, dari aspek kandungan maknanya, the opportunity = peluang, selanjutnya terserah kita mau pilih yang mana lanjutan kalimat ini. Pilih yang pertama “is nowhere = tidak ada” yang artinya kita menganggap bahwa peluang itu tidak ada atau sudah tertutup. Atau mau pilih yang kedua “is now here = sekarang ada disini” yang artinya kita menganggap bahwa peluang itu selalu ada dan selalu menghampiri kita.

Kedua, dari aspek pilihan kalimat, pertanyaannya kenapa sebagian besar orang memilih pilihan pertama ?. Bisa saja karena itu yang terlintas di pikiran pertama kalinya atau juga itu kalimat yang paling mudah untuk diucapkan pertama kalinya. Jadinya ya gitu deh, trus untuk orang yang memilih pilihan kedua, bisa saja alasannya sama seperti di atas tapi bisa juga karena merasa ada pilihan lain misalnya, sehingga dia berusaha untuk memilihnya supaya ada yang berbeda.

Yah namanya saja “utak atik gathuk”, ya begitu saja kira-kira ulasannya. Terkait dengan pilihan, kebanyakan memang memilih yang paling mudah, cenderung tidak mau bersusah payah, itu mungkin kenapa banyak yang memilih pilihan pertama. Nah, kalau seperti ini jadinya pantas saja haampir setiap peluang yang hadir dianggap tidak ada.

Makanya dari analisa di atas wajar saja ada ungkapan bahwa, “95 persen kekayaan di dunia ini hanya dinikmati oleh 5 persen penduduk dunia, sedangkan 5 persen kekayaan dunia itu diperebutkan 95 persen penduduk dunia”. Lihat saja berita di Jawa Pos beberapa waktu yang lalu yang merilis orang-orang terkaya di indonesia versi majalah Globe Asia, penghuni orang terkaya di Indonesia dari dulu sampai dengan sekarang ya itu-itu saja. Artinya benarlah ungkapan di atas yang seolah menguatkan lirik lagunya Bang Haji Rhoma Irama “….. yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin….”

Ada juga ulasan yang cukup menarik yang disampaikan pakar ekonomi islam, Dr. Muhammad Syafii Antonio tentang ungkapan di atas : “Ketika anda jatuh atau gagal anda bilang : Opportunity is NOWHERE. Sesungguhnya anda salah baca, yang benar : Opportunity is NOW HERE”.

Terkait denagn peluang, kita harus bisa menarik diri kita sejenak untuk kemudian bisa meneropong apapun yang ada di sekitar kita sehingga kita memiliki cukup view untuk memandangnya dari segi manapun dan dalam aspek apapun. Kalau ini kita lakukan insyaallah hampir setiap yang ada di sekitar kita adalah peluang, selanjutnya tinggal kita mau menangkapnya atau tidak.

Seseorang yang hanya lulusan SLTA bisa sukses dan kaya hanya karena melihat yang disekitarnya adalah peluang yang terhampar sangat luas dan banyak. Dia yang awalnya merantau dari jawa timur ke daerah pusat ukiran di jepara sebagai tukang ampelas (tukang penghalus), akhirnya menjadi eksportir besar produk ukiran jepara ke manaca negara. Sudah lama saya tidak ketemu beliau lagi, semoga nanti dipertemukan Allah SWT. Amiin.

Seorang pedagang es puter di sekitar rumahku yang baru buka habis maghrib seringkali jam delapan malam sudah ludes jualannya. Dan yang sangat fuuntastic, dia bisa membawa pulang setiap harinya minimal 250 ribu.

Semoga coretan ini bisa menginspirasi kita semua.

Wassalam
Arif Prasetyo Aji
www.busanamuslim-attaqi.blogspot.com