Monday, October 26, 2009

Kisah Para Pejuang Kemakmuran (bagian 2)


ABU BAKAR ASH SHIDIQ & UMAR BIN KHATTAB

Pada saat Rasulullah SAW dan para Sahabat sedang menghadapi perang Tabuk, beliau Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat dalam rangka penggalangan dana. Ceritanya saat itu Umar Bin Khattab ingin mengalahkan Abu Bakar Ash Shidiq dalam hal bershadaqah. Ketika Rasulullah bertanya : “Siapa yang berinfaq pada hari ini ?”. Kemudian Umar mengacungkan tangan dan mengatakan : "Saya menginfaqkan separuh harta saya ya Rasulullah”.

Tapi kemudian semua sahabat terperanjat termasuk juga Umar ketika Abu Bakar Ash Shidiq mengacungkan tangannya dan mengatakan : “Saya menginfaqkan seluruh harta saya ya Rasulullah”. Kemudian Rasulullah bertanya : “Lalu apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar ?”. Jawab Abu Bakar : “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya yang aku tinggalkan untuk mereka”.

Akhirnya, Umar mengakui kehebatan Abu Bakar dalam hal beramal dan mengatakan, “Sampai kapanpun saya tidak akan dapat menandingi prestasi ibadah Abu Bakar”. Karena Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Allah & Rasul-nya untuk keluarganya, sementara Umar menginfakkan hanya separuh hartanya, Nah Lho....

Dua sahabat ini adalah pejuang kemakmuran yang lain, dimana beliau adalah pengusaha yang kaya raya. Kisah di atas adalah salah satu contoh keteladanan yang diberikan. Diantara keistimewaan yang lain adalah bahwa beliau sama-sama pernah menjadi Khalifah dan termasuk salah seorang diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

IMAM ABU HANIFAH (IMAM HANAFI)

Sekarang mari kita tengok kisah shalafus shalih setelah generasi sahabat yang juga tak kalah hebatnya dalam ikhtiarnya menjadi pejuang kemakmuran. Konon Imam Abu Hanifah, selain sebagai imam mahdzab yang faqih dalam agama adalah seorang entrepreneur yang sangat berdaya. Abu Hanifah mengawali aktifitas entrepreneurnya dengan berjualan roti di pasar sampai pada akhirnya memiliki jasa keuangan (Khilafah & Kerajaan).

Dan karena saking mandirinya, beliau menjadi da’i yang sangat merdeka termasuk bisa menegur Khalifah pada saat itu untuk kembali kepada kebenaran. Sampai pada akhirnya beliau diminta menjadi Qadhi (=hakim) di Kekhilafahan, akan tetapi beliau menolaknya dengan tegas. Karena pada masa itu, Qadhi di Kekhilafahan sama halnya sebagai tukang stempel saja, sama nggak ya dengan negeri kita saat ini ?

Menurut Imam Abu Hanifah, da’i harus berdaya dan memberdayakan. Dengan kepandaiannya, beliau mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan Islam kepada semua kalangan. Dan dengan bisnisnya yang luar biasa besarnya itu, beliau juga bisa memberikan beasiswa kepada seluruh murid-muridnya bahkan sampai ke luar negeri dengan biaya penuh darinya.

Dan jangan ditanya, assetnya kalau dikurskan dengan nilai sekarang mungkin mencapai 1.7 trilliun, lebih besar dari dana rakyat indonesia yang dibawa lari edi tansil dulu. edi tansil, tanya keumana..?

KEBERANIAN & KEMANDIRIAN

Hari ini kita belajar menjadi seorang yang selalu berani berkompetisi untuk sebuah kebaikan dari dua sahabat Rasulullah SAW yang lain, yaitu Abu Bakar dan Umar. Dua sahabat ini menjalani kehidupannya dengan menjadi seorang entrepreneur/pengusaha yang tidak lupa pada Allah SWT. Mereka tidak pernah takut bahwa hartanya akan pergi, kalau toh pun pergi, itu hanyalah untuk Allah SWT.

Dalam hal ini Umar pernah mengatakan : “Taruhlah hartamu itu di tangan, dan jangan kamu taruh di hati”. Artinya, harta itu hanyalah titipan dan kita hanya sebagai perantara dari harta yang kita miliki.

Dan terkait ketakutannya kepada Allah, Umar juga pernah mengatakan : “Hisablah (evaluasilah) dirimu sebelum kamu nanti dihisab di hari akhir nanti”. Artinya, evaluasi itu adalah agenda rutin dari sebuah siklus kehidupan, sehingga kita bisa mengukur apakah aktifitas kita berbuah surga atau neraka.

Dari Imam Abu Hanifah, kita belajar bagaimana proses menjadi seorang pengusaha sukses disamping juga belajar tentang kemandirian. Karena kemandirian akan melahirkan keberanian bersikap sesuai dengan kebenaran yang diajarkan Allah dan rasul-Nya.

Dengan kekayaan yang dimiliki, Imam Abu Hanifah dapat membantu para muridnya untuk memperdalam ilmunya di luar negeri. Disamping juga dapat membantu masyarakat lainnya yang membutuhkan. Sekali lagi, kemandirian itu akan menjadikan kita terhormat karena kita bisa berperan menjadi TANGAN DI ATAS.

Salam Entrepreneur Indonesia
Arif Prasetyo Aji
Exist Bangun Nusantara | Dienazty Fashion Center |

Catatan :

Kalau memberi jangan pernah berhitung, insyaallah Allah juga tidak akan menghitung kalau mau memberi kita.


Monday, October 19, 2009

Kisah Para Pejuang Kemakmuran (bagian 1)


ABDURRAHMAN BIN AUF


Abdurrahman Bin Auf adalah seorang sahabat yang menjadi pengusaha kaya di Makkah, Dengan segenap ketrampilan dan intuisi bisnisnya dan tentu saja ridho Allah, beliau mengembangkan sayap bisnisnya dengan asset yang luar biasa besarnya pada saat itu. Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman Bin Auf meninggalkan seluruh hartanya dan siap memulai hidup baru dalam naungan Islam di Madinah.

Kisah yang sangat fenomenal telah diabadikan dalam shiroh nabawiyah, dimana saat itu Abdurrahman Bin Auf dipersaudarakan dengan sahabat Anshar (dari Madinah) yang bernama Sa’ad Bin Rabi’ Al anshari. Oleh Sa’ad, Abdurrahman ditawari untuk memilih salah satu istrinya untuk dinikahi tapi beliau menolaknya. Juga ditawari untuk memilih salah satu kebun milik Sa’ad, tapi sekali lagi Abdurrahman menolaknya. Abdurrahman hanya minta ditunjukkan dimana pasar berada.

Abdurrahman Bin Auf adalah sosok pengusaha kaya yang memiliki intuisi seorang entrepreneur. Pernah dalam suatu kesempatan beliau mengungkapkan :

“Saya tidak mengangkat batu, kecuali dibawahnya ada emas dan perak”

Ini sekali lagi membuktikan bahwa Abdurrahman Bin Auf adalah seorang yang ulet dan selalu bisa melihat dan mengeksekusi peluang yang ada. Sehingga dalam waktu sekejap dengan modal NOL, beliau bisa menguasai pasar yang ada di Madinah. Sungguh luar biasa !!!

Ada 3 keistemewaan yang dimiliki seorang Abdurrahman Bin Auf, diantaranya :

Pertama, Abdurrahman adalah seorang pengusaha kaya yang sangat dermawan. Beliau menyantuni para veteran perang badar dan menyantuni para janda Rasulullah. Beliau memberi makan anak yatim dan fakir miskin di Madinah.

Kedua, ia tercatat sebagai orang ke-8 yang masuk Islam dan termasuk dalam kategori assabiqunal awwalun (generasi awal yang masuk islam). Artinya, beliau sejak awal sudah membela perjuangan Rasulullah dengan segala macam kepedihan dan penderitaan. Ia dua kali ikut hijrah ke Habasyah (Ethopia) karena umat Islam diancam oleh kafir Quraisy.

Ketiga, Abdurrahman termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin Rasulullah bakal masuk surga. Artinya, Abdurrahman Bin Auf adalah salah seorang sahabat yang punya kepribadian luar biasa dan namanya tercatat dalam sejarah Islam dengan tinta emas.

USTMAN BIN AFFAN

Ustman Bin Affan adalah sahabat lain Rasulullah SAW yang juga merupakan pengusaha besar kala itu. Meskipun kaya raya, beliau hidup dengan sederhana dan sangat dermawan, sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Zuhud.

Pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, "Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang meramalkan datangnya bencana, maka apa harus kita lakukan ?”

Abu Bakar ra menjawab : "Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian"

Pada petang harinya di Syam ada sebuah kafilah dengan 1,000 unta mengangkut gandum, minyak dan kismis. Unta itu lalu berhenti di depan rumah Ustman, lalu mereka menurunkan muatannya.

Tidak lama kemudian pedagang datang menemui Ustman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu.

Lalu Ustman berkata kepada mereka : "Dengan segala senang hati. Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan?”
Mereka jawab : "Dua kali lipat"
Ustman menjawab : "Wah sayang, Sudah ada penawaran lebih"
Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Ustman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak.

Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Ustman : "Wahai Ustman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih ?"

Ustman menjawab : ”Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?"
Mereka serentak menjawab : "Tidak!"

Ustman berkata lagi : "Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah kerana Allah, untuk fakir miskin daripada kaum muslimin"

Petang hari itu juga Ustman ra membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.

Itulah salah satu kedermawanan Ustman Bin Affan yang merupakan keistimewaan yang dimilikinya selain sebagai Khulafaur Rasyidin dan beliau juga termasuk salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

KAYA + JUJUR = DERMAWAN

Kita sangat merindukan hadirnya seorang entrepreneur/pengusaha yang kaya raya yang memiliki sifat jujur dalam dirinya. Pun harta yang diperolehnya adalah berangkat dari aspek kejujuran ini. Dan saya sangat yakin, kalau memang begitu adanya maka insyaallah akan lahir orang-orang dermawan yang dengan tulus membantu saudaranya yang lain. Insyaallah.

Hari ini kita belajar dari dua sahabat yang memiliki KECERDASAN FINANSIAL yang luar biasa sehingga bisa mengantarkannya menjadi PENGUSAHA KAYA RAYA dengan omset yang besar. Dengan kata lain, uanglah yang mengejar mereka sehingga dalam kondisi apapun pasti berpotensi menjadi peluang yang sangat menguntungkan..

Juga kita belajar bagaimana dua sahabat ini memiliki KECERDASAN SPIRITUAL yang sangat istimewa sehingga selalu menegakkan KEJUJURAN dalam setiap aspek kehidupannya temasuk dalam menjalankan roda bisnisnya. Dalam setiap kehidupannya senantiasa ada aspek spiritual, sehingga pantaslah kalau dua sahabat ini dijamin masuk surga.

Kalau sudah memiliki dua kecerdasan di atas, maka menjadi DERMAWAN itu adalah sebuah kemestian. Dan sekali lagi kita belajar deari para pejuang kemakmuran tentang kedermawanan. Atau kalau saya mengistilahkan MEMBERI TANPA MENANTI, artinya kedermawanan itu adalah sebuah sikap bagaimana kita selalu bisa menjadi seorang yang mandiri dan selalu menjadi TANGAN DI ATAS. Karena “tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah”.

Salam Entrepreneur Indonesia

Arif Prasetyo Aji
Exist Bangun Nusantara | Dienazty Fashion Center

Catatan :
Alhamdulillah sejak awal bulan ini sudah bisa menempati kantor baru. Semoga Allah memberikan barakah dan ridha-Nya kepada kami dengan segenap ikhtiar yang kami lakukan.



Saturday, October 10, 2009

Memanfaatkan “TREND” Dalam Dunia Bisnis

Memanfaatkan “TREND” Dalam Dunia Bisnis Waktu jalan ke ITC Mega Grosir Surabaya, ada pemandangan yang cukup menarik. Ada salah satu outlet busana muslim yang memajang 3 mukena dengan brand yang sebenarnya sama tapi agak berlainan, yaitu : mukena manohara, mukena ibunya manohara dan mukena tetangganya manohara.

Pertanyaannya, siapa yang mengawali munculnya ide seperti ini ? Lalu, siapa saja yang kemudian ikut dalam arus bisnis dengan memanfaatkan ikon manohara ?

Ternyata, respon customer terhadap produk yang berlabel “manohara” ini juga terbilang cukup besar, ini bisa dilihat dari banyaknya produk ini yang terjual. Coba tanya saja kepada pedagang yang panen keuntungan dari berjualan produk berlabel manohara ini. Bisnis dengan memanfaatkan “TREND” yang terjadi dimasyarakat sungguh sangatlah menarik dan tentu saja menguntungkan.

Kalau kita mau mengamati lagi, coba tengok bisnis di perempatan jalan. Kita pasti dapati dalam suatu periode tertentu yang dijual itu sama saja jenis produknya kemudian berganti sesuai dengan trend atau peristiwa yang terjadi di masyarakat. Dan ternyata suppliernya memang sama, artinya dia yang menentukan produk apa yang harus dijual dalam kurun waktu tertentu. Kenapa ada yang bermain di sector ini, tentunya factor keuntungan yang bicara.

Bicara soal “TREND” ada buku yang cukup menarik yang menggambarkan bagaimana sebuah TREND itu dibuat dan bekerja. Buku yang ditulis oleh Henrik Vejlgaard ini diberi judul “Anatomy of a Trend”.

Pada hari ini, trend muncul dari semua strata masyarakat, dianataranya menggejala pada anak laki-laki remaja di kawasan slums di Rio de Jenairo dengan musiknya dan footwear. Puncaknya pada tahun 1993, havaianas sebagai sebuah komoditi-adalah sepatu orang-orang miskin, kemudian menjadi aesories busana, kini dikelola menjadi sangat besar dan terkenal di Brasil.

Kata “TREND” boleh jadi digunakan sebagai synonym dari “CHANGE” (perubahan) dalam nilai-nilai politik, spiritual, bisnis dan banyak bidang lainnya. Sebuah trend adalah sebuah proses yang digerakkan oleh ummat manusia dalam pola sosiologis yang telah berlangsun berabad-abad.

Dalam buku ini juga menceritakan hasil survey tentang sikap orang-orang dalam menghadapi perubahan atau trend. Diantaranya :

Trendsetter : adalah mereka yang paling terbuka dan memiliki rasa ingin tahu terhadap individualisme dengan ditunjukkan melalui style dan cita rasa. Mereka menerima gagasan bahwa style harus berubah-ubah dan perubahan adalah hal yang positif.

Trendfollower : adalah mereka yang agak sama dengan trendsetter, tetapi mereka perlu melihat orang lain dulu menggunakan inovasi style baru.

Early Mainstreamers : adalah orang menerima style baru tapi dia membutuhkan lebih banyak orang menggunakan style baru sebelum mereka mengadopsi style baru. Dengan kata lain, mereka perlu melihat trendsetter dan trendfollower mengadopsi suatu style.

Mainstreamers : Orang di kelompok ini, tidak ingin menjadi trendy sebagai trendsetter tetapi juga tidak ingin terlihat sebagai konservatif seperti yang lain. Sehingga mottonya : Jangan menjadi orang pertama untuk mencoba sesuatu hal baru dan jangan menjadi orang terakhir.

Late Mainstreamers : Sangat ragu-ragu terhadap sesuatu dan bahkan dalam beberapa kasus “dismissive” dalam hal style dan cita rasa. Mereka menerima style setelah terjadi perubahan sehingga mereka seolah-olah berada diluar kebanyakan.

Conservatives : Lebih memilih style yang telah ada selama bertahun-tahun atau beberapa decade. Mereka skeptis terhadap style baru dan tidak menginginkan terjadinya perubahan dalam style dan cita rasa.

Diantara semua itu, ternyata ada yang disebut Trendcreators, adalah orang-orang yang dengan sengaja ingin menciptakan trend baru di masyarakat. Dan sebagai pelaku utamanya adalah trendsetter tentunya, yang memang cenderung suka membawa perubahan atau dengan kata lain menjadi ikon perubahan.

Nah, sebagai entrepreneur/pengusaha/pebisnis, kita sebaiknya bermain dimana kalau menginginkan keuntungan yang besar. Silahkan pilih sendiri !