Tuesday, October 02, 2012

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan


Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan, hanya bentuk dan kadarnya saja yang mungkin berbeda. Dan setiap orang juga pasti pernah mengalami kemudahan sesuai dengan frekuensi dan bentuknya pula. Sering kita mendengar orang menyebut “orang beruntung” untuk orang yang kelihatannya selalu mendapatkan kemudahan dari Allah SWT, hidupnya dipenuhi kebahagiaan, anak-anaknya membanggakan dan berpreastasi, rizqinya mengalir deras, jabatnnya jangan ditanya lagi selalu naik, dan lain sebagainya. Itu mungkin hanya yang kita lihat dari luar, bisa jadi orang tersebut memang melakukan ikhtiar dan tawakal yang sepadan dengan hasil yang didapatkan.

Dalam kamus motivasi seringkali kita mendengar bahwa kesuksessan itu adalah bertemunya persiapan yang kita lakukan dengan peluang yang ada dihadapan kita. Ada orang yang sering menemukan peluang tapi dia tidak tahu bagaimana cara mengeksekusi peluang tadi karena memang dia tidak pernah melakukan persiapan untuk menghadapi peluang tadi. 


Persiapan itu adalah bagian dari ikhtiar yang mesti dilakukan agar kita bisa menangkap peluang yang selalu bertebaran dihadapan kita. Nah kalau sudah ketemu peluang,  maka “faidza azamta fatawakkal alallah” kita meneguhkan diri untuk bertawakal kepada Allah SWT.

Tapi terkadang orang tidak langsung mengalami sukses begitu saja, tapi melewati yang namanya kegagalan ataupun kesulitan. Nah kalau kita sudah menghadapi kesulitan maka yakinlah bahwa itulah momentum awal anda akan mengalami kebangkitan alias kesuksesan. Bukankah Allah telah menjanjikan yang demikian dalam QS 94 ayat 4 dan 5?. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Bahkan janji Allah itu diulang dua kali, bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan. Artinya, jika kita mengalami kesulitan, maka kita harus yakin bahwa kelapangan dan kesuksesan akan menghampiri kita. Kehidupan kita ini kan seperti permainan “roller coaster”, kadang dibawah dan kadang di atas, jika kita berada di bawah maka kitapun harus siap untuk menyongsong nikmatnya berada di atas.

Dan biasanya kita akan lebih bisa menerapkan “tawakal” kita pada Allah saat kita berada di bawah alias kesulitan. Saat itulah kita merasa begitu dekatnya dengan Allah SWT, kita bisa merasakan nikmatnya Qiyamullail, nikmatnya sholat dhuha, nikmatnya berlama-lama zikir dan membaca Qur’an dan khusyu’nya do’a yang kita panjatkan.

Berbeda halnya dengan para sahabat Rasulullah SAW dan para ulama’ terdahulu yang untuk menerapkan “tawakal” ini tidak perlu menunggu datangnya kesulitan dulu. Seorang sahabat Rasulullah tatkala akan dicabutnya anak panah yang menancap ditubuhnya demi tidak mau bersinggungan dengan alkohol, lebih memilih membaca qur’an dengan khusu’nya sampai kemudian tidak merasakan kalau anak panahnya sedang tercabut, subhanallah.

Nah, ilmu tawakal perlu kita tingkatkan kualitasnya ditengah kehidupan yang penuh dengan ujian ini seperti halnya meningkatkan kadar ikhtiar kita dalam menjemput kesuksesan, apapun itu kesuksesan yang kita inginkan. Allah tidak akan pernah tidur, apa yang kita minta insyaallah akan dikabulkan, lah wong yang tidak kita minta saja Allah berikan. Nah, kalau mengalami kesulitan, kembalilah kepada Allah SWT yang Maha Kaya yang maha memiliki segalanya.

Salam Sukses & Berkah !
Arif Prasetyo Aji | Silahkan follow akun twitter saya : @arifaji


Post a Comment