Thursday, November 27, 2014

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Pengusaha Sukses Yang Menginfakkan Seluruh Hartanya

Abu Bakar Ash-Shiddiq (632-634 M), adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. yang mempunyai nama lengkap Abdullah Abi Quhafah At-Tamimi. Pada zaman pra Islam ia bernama Abu Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi SAW. menjadi Abdullah. Beliau lahir pada tahun 573 M, dan wafat pada tanggal 23 Jumadil akhir tahun 13 H bertepatan dengan bulan Agustus 634 M, dalam usianya 63 tahun, usianya lebih muda dari Nabi SAW 3 tahun. 

Diberi julukan Abu Bakar atau pelopor pagi hari, karena beliau termasuk orang laki-laki yang masuk Islam pertama kali. Sedangkan gelar Ash-Shiddiq diperoleh karena beliau senantiasa membenarkan semua hal yang dibawa Nabi SAW. terutama pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj.

Abu Bakar adalah putra dari keluarga bangsawan yang terhormat di Makkah. Semasa kecil dia merupakan lambang kesucian dan ketulusan hati serta kemuliaan akhlaknya, sehingga setiap orang mencintainya. Pengabdian Abu Bakar untuk Islam sangatlah besar. Ia menyerahkan semua harta bendanya demi kepentingan Islam serta mengajak beberapa sahabatnya seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf serta memerdekakan Bilal bin Rabah. Ia selalu mendampingi Rasulullah SAW. dalam mengemban misi Islam sampai Nabi SAW wafat.

Abu Bakar adalah bangsawan dan saudagar sejak sebelum masuk Islam. Perniagaannya melampaui negeri-negeri jiran. Maka tak heran ketika memeluk Islam Ia menjadi salah satu penopang dakwah dan jihad dengan kelebihan harta yang dimilikinya, selain karena ketokohan dan kebangsawanannya di kalangan Quraisy.

Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Abu Bakar dengan pengorbanan harta membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan.

Diriwayatkan bahwa Abu Bakar As-Siddiq memiliki 9 toko yang semuanya habis dibuat untuk tegaknya agama Islam. Beberapa budak yang ia bebaskan antara lain : Bilal bin Rabbah,  Abu Fakih,  Ammar,  Abu Fuhaira,  Lubainah,  An Nahdiah,  Ummu Ubays,  Zinnira.

Soal kekayaan Abu Bakar dan kedermawanannya tersebut diakui oleh sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zeidan. Jurji punya komentar menarik. Katanya, “Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan keemasan Islam. Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaan, kejujuran, kealiman, dan keadilannya. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan demi memajukan agama Islam. Abu Bakar benar-benar menjadi penopang Rasulullah dalam berdakwah, termasuk dalam hal ekonomi. Aisyah berkata, “Abu Bakar menginfakkan 4.000 dirham kepada Nabi.” Masih kata Aisyah, “Ketika meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan satu dinar dan tidak pula satu dirham pun.” (Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqaini).

Beliau selalu mengiringi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selama di Makkah, bahkan dia lah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi di dalam gua dalam perjalanan hijrah hingga sampai ke kota Madinah. Di samping itu beliau juga mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rosulullahu shalallahu ‘alaihi wa sallam baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.

Allah swt berfirman,”Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia berkata kepada temannya,’Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah berserta kita.”’[Q.S.At-Taubah(9):40]’”

Para ahli tafsir sepakat bahwa salah seorang dari dua orang itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dan dialah orang yang dimaksudkan dengan temannya.

Pada saat Rasulullah SAW mengumumkan agar kaum Muslimin menyumbangkan harta mereka untuk dana perang melawan Romawi di Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah SAW. “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah kepada Abu Bakar. “Allah dan Rasul-Nya?” jawab Abu Bakar tanpa keraguan sedikitpun.

Inilah totalitas hati Abu Bakar. “Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati tak menyisakan apapun melainkan apa yang ia cintai,” demikian komentar Imam al-Ghazali tentang kisah beliau ini.

Totalitas hati itu membawa Abu Bakar SAW menjadi orang yang paling makrifat kepada Allah di antara umat Rasulullah SAW yang lain. Abu Bakar Radhiallâhu’anhu mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulullah SAW. Padahal, sebelumnya Abu Bakar adalah saudagar yang disegani di Quraisy.

Abdullah bin Umar bercerita: Suatu ketika Rasulullah SAW duduk, di samping beliau ada Abu Bakar memakai jubah kasar, di bagian dadanya ditutupi dengan tambalan. Malaikat Jibril turun menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan salam Allah kepada Abu Bakar.
“Hai Rasulullah, kenapa aku lihat Abu Bakar memakai jubah kasar dengan tambalan penutup di bagian dadanya?” tanya Malaikat Jibril. “Ia telah menginfakkan hartanya untukku sebelum Penaklukan Makkah.” Sabda beliau, “Sampaikan kepadanya salam dari Allah dan sampaikan kepadanya: Tuhanmu bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?”

Rasulullah SAW menoleh kepada Abu Bakar. “Hai Abu Bakar, ini Jibril menyampaikan salam dari Allah kepadamu, dan Allah bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?” Abu Bakar menangis:”Apakah aku akan murka kepada (takdir) Tuhanku!? (Tidak!) Aku rida dengan (takdir) Tuhanku, Aku rida akan (takdir) Tuhanku.”

Semua miliknya habis untuk Allah dan Rasulullah SAW. Inilah totalitas cinta. Cinta yang mengorbankan segalanya untuk Sang Kekasih, tak menyisakan apa-apa lagi selain Dia di hatinya. “Orang yang merasakan kemurnian cinta kepada Allah, maka cinta itu akan membuatnya berpaling dari pencarian terhadap dunia dan membuatnya merasa tidak asyik bersama dengan segenap manusia.” Demikian untaian kalimat tentang tasawuf cinta yang pernah terucap dari mulut mulia Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq.

Salam Sukses & Berkah !

Facebook : Arif Prasetyo Aji | Twitter : @arifaji


Post a Comment