Tuesday, November 25, 2014

Membangun Generasi Impian Nabawiyah

Zaman terus menyambut pergiliran generasi terbaik dari ummat ini dengan caranya sendiri yang siap menorehkan prestasi ummat di usia keemasaanya. Diantara generasi yang muncul di setiap zaman selalu memiliki karakteristik yang sama yaitu menjunjung tinggi Qur’an dan sunnah. Generasi yang muncul dengan prestasi gemilang tersebut tidaklah muncul secara tiba-tiba melainkan kemunculannya dipersiapkan jauh hari bahkan sebelum kelahirannya di muka bumi.

Inilah beberapa contoh generasi impian nabawiyah tersebut :

Usamah bin Zaid 18 tahun, Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dan Khalid bin Walid untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun, Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro. Rasul Shallallahu’alahi wasallam bersabda tentangnya : “Ini adalah pamanku, ayo mana paman kalian”.

Al Arqam bin Abil Arqam 16 tahun, Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasulullah Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.

Zubair bin Awwam 15 tahun, Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

Zaid bin Tsabit 13 tahun, Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasulullah Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

Atab bin Usaid, Diangkat oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagai Gubernur Makkah pada umur 18 tahun.

Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun, Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.

Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun, Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng.

Muhammad Al Fatih 22 tahun, Menaklukkan Konstantinopel ibukota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.

Abdurrahman An Nashir 21 tahun, Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.

Muhammad Al Qasim 17 tahun, Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Ibnu Sina usia 17 tahun menjadi dokter utama yang sangat masyur di kekhalifahan Abasiyah.
Kisah yang tak terhitung dalam goresan sejarah islam, ukuplah hal itu sebagai pengingat keagungan pemuda dalam masyarakat Islam. Semoga Allah SWT. membimbing kita & anak-anak kita menjadi generasi nabawiyah yang siap menorehkan sejarah kebangkitan Islam.

Pertanyaannya, mengapa mereka di usia yang masih muda seperti itu sudah penuh dengan karya agung? Jawaban sederhananya adalah bahwa mereka telah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan gemblengan tarbiyah nabawiyah, Tarbiyah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Dan pelajaran yang utama adalah pengajaran keimanan dan Al Qur’an sejak dini. Mereka para pemuda itu adalah para penghafal Qur’an sejak usia anak-anak. Sementara pendidikan kita saat ini tidak memberikan fasilitas yang cukup untuk pengajaran di dua aspek penting ini.

Sejak kecil Muhammad Al Fatih diajak untuk melihat benteng Konstatinopel oleh ayahnya, Sultan Murad II dan gurunya, Syaikh Aaq Syamsudin dan selalu diulang-ulang pengajaran hadist Rasulullah SAW berikut ini :
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Sejak kecil Muhammad AL Fatih dipersiapkan untuk menjadi sebaik-baik pemimpin sebagiaman pujian dalam Hadist Rasulullah SAW di atas yang diperunntukkan bagi para penakluk benteng Konstatinopel. Dan tercatat bahwa Muhammad Al Fatih selalu sholat fardhu berjama’ah di awal waktu dan tak pernah sekalipun kehilangan shalat sunnah rawatibnya begitupun Qiyamullail nya.

Selanjutny adalah tugas kita untuk melahirkan generasi impian nabawiyah yang siap mengemban misi kenabian berikut ini :
“Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)


Salam Sukses & Berkah !

Facebook : Arif Prasetyo Aji | Twitter : @arifaji
Post a Comment