Tuesday, January 27, 2015

Bagaimana Rasulullah SAW Memperlakukan Anak Tercintanya, Fatimah Az Zahra

Fathimah adalah belahan hati Nabi dan yang paling dicintai. “Fathimah adalah belahanku.” Hanya dari putri inilah keturunan beliau tersisa dan bersambung.

Begitu dekat hubungan Nabi dengan Fathimah. Beliau curahkan cintanya murni untuk putri yang tinggal seorang itu, beliau sukai apa kesukaannya, beliau benci apa saja yang menyakitinya. Sekali waktu beliau bersabda, “Allah murka bila kau murka, dan ridha bila kau ridha.”

Bila datang dari perjalanan, beliau langsung menemui Fathimah dan menciumnya. Atau masuk ke Masjid dulu, shalat dua rakaat, lalu pergi mengunjunginya dan baru setelah puas bersamanya, Nabi keluar untuk menemui istri-istrinya.

Bila Fathimah berkunjung ke rumah Nabi, beliau berdiri menyambutnya, mencium kepalanya atau kening antara kedua matanya, memuliakan dan mendudukkannya di tempat duduk beliau. Dipanggilnya ia dengan julukan, “Ibu sang ayah”, Ummu Abiha.

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah yang terbaik terhadap keluargaku.” (HR. Al Tirmidzi)

Rasulullah adalah teladan bagi kita, ummatnya di akhir zaman ini yang segala perilakunya perlu kita ikuti agar apa yang kita lakukan sebagai orang tua bisa bernilai ibadah dan tentunya bisa menghasilkan generasi sekelas anak-anak Rasulullah SAW. Kita harus mulai rajin membuka-buka kembali Al qur’an, Hadist dan kitab-kitab utama yang menerangkan tentang keluarga dan pendidikan anak.

Rasulullah SAW bisa menghasilkan generasi sekelas para sahabat, bukanlah tanpa perencanaan. Semua pasti dengan perencanaan dan panduan yang di bimbing langsung oleh Allah SWT. Di antara yang tercatat dalam sejarah, para sahabat dan anak-anak pada saat itu diajarkan iman dahulu kemudian diajarkan Al Qur’an, dengan diajarkannya Al Qur’an tersebut maka bertambahlah iman mereka.

Contoh kecil di sini, bagaimana Rasulullah SAW bergaul dengan anaknya, Fatimah Az Zahra. Kebanyakan kita saat ini, orang tua dua-duanya sibuk diluar rumah bekerja mencari nafkah, sementara anak di asuh oleh nenek atau bahkan oleh tetangga ataupun babby sitter. Jelas waktu siang sangat terbatas komunikasinya dengan anak-anak, sementara malam biasanya anak-anak sedang asyiknya bermanja-manja dengan kita sebagai orang tua, kita cenderung mengabaikannya karena jelas mungkin sudah capek seharian bekerja.

Pertanyaannya, lalu dimana porsi orang tua untuk melakukan pendidikan kepada anak-anaknya?
Inilah yang harus menjadi renungkan kita bersama, sehingga wajar saja kalau anak-anak kita tumbuh dengan didikan jalanan dan jauh dari generasi sekelas para sahabat. Anak-anak kita perlu kasih sayang yang cukup, perlu pelukan setiap saat dari para orang tuanya, perlu menceritakan pengalamannya hari itu, dan lain sebagainya.

Suatu saat saya mendapati anak saya di malam hari, meski sudah mengantuk dia masih asyik saja bermain mengajak saya dan juga bundanya sampai tengah malam karena hari itu jatah bertemu kita denganya kurang atau bahkan tidak ada. Tapi, ya itu tadi godaannya orang yang sudah capek, segala upaya kita lakukan agar anak ini bisa tidur cepat. Padahal dia hanya ingin perhatian dari kita yang hari itu belum sepenuhnya didapatkan. Allahu Akbar.....

Ya Allah Rabbi habli minas shalihiin
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunina waj’alna lil muttaqiina imaama


*) Sumber : buku “Bilik-Bilik Cinta Muhammad” yang ditulis oleh Dr. Nizar Abazhah


Salam Sukses & Berkah


#BelajarSambilBermain #BermainSambilBelajar bersama #KartuBacaABACAFlashCard
#ABACAFlashCard sebagai sarana harmonisasi orang tua dengan anak-anaknya dengan metode bermain yang menyenangkan plus bonus bisa membaca
Dapatkan segera, hanya di : SMS/WA : 0878 541 30 202, PIN BB : 52002E68



Post a Comment